• Home
  • About
  • Youtube

Spilling Thoughts

of ZIDNY ILMANAFIA

facebook google twitter tumblr instagram linkedin

Disclaimer: Read Part 1

Keluarga punya peran yang besar dalam ngebentuk perilaku. Coba lihat, hampir semua kasus perilaku bermasalah disumbang faktor keluarga.  Begitu juga mereka yang sukses, banyak juga yang didorong  support system yang kuat dari keluarga. Karir orangtua gemilang, rezeki melimpah tapi mereka tidak benar-benar punya figur orangtua yang memenuhi kebutuhan psikologis anak. Lupa kalo harus mendidik dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis anak. Masih ada orangtua yang selalu ingin memberikan yang terbaik buat anaknya, malah jatuhnya terlalu memanjakan. Misalnya, ada yang dengan gampang membelikan HP baru buat anaknya. Udah kayak beli cilok di pinggir jalan aja.

Kalo ngikutin prinsip hierarki kebutuhan, suatu kebutuhan dasar harus terpenuhi sebelum kebutuhan memenuhi kebutuhan lain. Istilahnya kebutuhan anak yg mereka berikan sebatas kebutuhan-kebutuhan dasar (e.g. sandang, pangan, dan papan). Sementara kebutuhan psikologis, seperti kasih sayang, perhatian, kepercayaan kurang terpenuhi dan menghambat anak mencapai aktualisasi dirinya. Alhasil jadilah pribadi yang konsumtif, hedon, dan banyak yang terjerumus ke hal-hal yang lebih memberikan belongingness kayak narkoba, zat adiktif, pergaulan bebas, dsb. Naudzubillahimindzalik.

Keluarga yang baik itu bukan berarti yang ga ada masalah. Masalah itu jelas makanan sehari-hari, hanya saja resiliensi atau ketahanan atau cara seseorang merespon suatu masalah pasti berbeda-beda. Di situlah peran keluarga untuk memberi dukungan, kenyamanan, agar kita bisa menyikapi kehidupan dengan lebih bijak. Tempat yang paling baik untuk mengadu adalah keluarga. Gimana pun juga, keluarga paling tau latar belakang diri kita, yang belum tentu teman atau orang terdekat lainnya bisa bener-bener ngerti dan ngasih solusi yang tepat. Biasanya hal-hal yang kita persepsi jadi masalah, itu juga bawaan dari pola pikir orangtua.

Susah ya, jadi orangtua yang harus mendidik anak dengan tepat. Harus belajar psikologi perkembangan, perkawinan, pendidikan anak dan remaja, yang totalnya bisa 30 sks sendiri. Itulah sebabnya mahasiswi psikologi sering disebut calon istri idaman, karena kuliahnya aja belajar tentang masa depan keluarga. Ah, bohong itu, katanya katanya aja, jangan percaya, buktiin yuk? Haha. Ngarep.

Berkaca dari pengalamanku sebagai anak, mendidik anak itu harus reasonable. Jaman SMP dulu, ayahku bahkan menunda-nunda membelikan aku hp baru, karena aku diminta untuk nabung. Beberapa bulan sampe harus bertahan dengan hp yang udah ga berfungsi dan cuma bisa ngelus dada karena ayahku tetep ga mau beliin gitu aja. Setiap main selalu pasang mupeng (muka pengen) liat hp temen-temen yang istilahnya udah seri terbaru. Padahal waktu itu kalo langsung beli pun sebenernya bisa dan uang yang aku tabung sebenernya juga pemberian ayahku. Dulu aku belum bisa terima tapi sekarang aku mulai sadar. Ternyata, aku anak pungut yang dibuang di deket pasar condongcatur😭 Terkedjoet. Ternyata ayahku, bukannya gak mau beliin hp baru tapi itulah salah satu caranya mengajarkanku untuk menghargai usaha, proses, ngerti susahnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan, terlepas dari rajin menabung yang katanya pangkal kaya.

Oke, seenak apapun hidup kita kelak, rasanya tetep harus mengajarkan keprihatinan. That's why, aku iri sama temen-temen yang merantau karena mereka berkesempatan hidup prihatin. Mereka yang merantau walaupun dari keluarga kalangan berada pun, pasti pernah lah ngerasa pengen pulang. Saat keinginan itu datang, biasanya sedang ada masalah kehidupan yang terjadi yang jadi bagian dari pendewasaan. Biasanya kalo ga lagi ada masalah mungkin emang lagi kangen aja, atau bisa juga lagi kehabisan uang jajan, ya nggak?

Kalo aku suka ngeluh ketika orangtuaku banyak kurangnya, sama halnya aku juga sampe sekarang belum bisa jadi anak yang baik. Mungkin karena aku anaknya gengsian, aku jarang curhat masalah-masalah kecil ke orangtuaku, yang kadang juga menyiksa diri sendiri. Padahal mengkomunikasikan tentang life lesson apa yang bisa diambil dari keprihatianan itu juga penting. Otherwise, malah bikin anak bertanya-tanya dan berspekulasi yang terlalu jauh.

Beberapa waktu lalu, pas heboh film Dilan semua orang seperti mengidolakan sesosok Iqbaal, pemeran karakter Dilan. Iqbaal dielu-elukan karena cara bercakapnya, perilakunya yang kedewasaan, romantis, cerdas, dan sayang keluarga. Banyaknya karakter positif di sosok Iqbaal ini pasti produk keberhasilan didikan di keluarga, batinku. Ternyata bener dong. Di suatu interview, bunda dari Iqbaal bercerita kalo sejak kecil mereka punya kebiasaan ngobrol bareng sebelum tidur. Mereka nyebutnya ritual malam, yang menjadi momen untuk menyambung komunikasi antara ibu dengan anak.

Komunikasi: kunci penting dalam hubungan anggota keluarga, dan juga hubungan interpersonal lainnya. Membangun komunikasi juga ga gampang. Bayangin aja, kamu yang hidup di zaman now yang mungkin ngerti dan ngikutin banget tren kekinian, harus bisa berinteraksi sama orang yang baru yang ga tau apa-apa dan ga bisa apa-apa: anakmu! Atau malah keadaan jadi terbalik, ketika anakmu sudah mengenal lebih banyak hal daripada yang kamu tau.

Berbincang-bincang adalah hal sepele yang mungkin biasa kita lakukan tapi jarang benar-benar kita maknai momentumnya. Padahal kita bisa bangun kedekatan dan komunikasi dengan ngobrol sebelum tidur atau lewat perbincangan ketika makan bersama. Duduk bersama di meja makan menciptakan momen untuk saling bertukar pikiran, setidaknya mengutarakan apa yang dirasakan di hari itu tanpa menggurui. Dari kebiasaan yang cuma sekedar nimpalin pembicaraan, lama-lama anak bakal bisa terbuka sama orang tua tentang permasalahan yang serius. Family time yang kayak gitu, katanya bisa meningkatkan kepercayaan diri, memiliki kemampuan sosial dan akademis yang baik, dan mengurangi resiko perilaku bermasalah. Bahkan ngobrol saat makan itu termasuk Sunnah lho, karena Rasulullah pun berbincang-bincang ketika makan bersama sahabatnya, ngobrolin tentang cuka! Kekuatan makan bareng itu gak sekedar pada nilai makanan dan kenyangnya, tapi juga kualitas kebersamaannya. Makanya kalo mau deket sama gebetan, sering-sering ajakin makan bareng!

Btw, kabarnya perekonomian Indonesia akan terus meningkat, lho. Gak sampe 2 tahun lagi, kita bakal ngalamin bonus demografi, di mana populasi angkatan kerja mencapai 70% dari total jumlah penduduk. Bersamaan juga maraknya kampanye kesetaraan gender, di mana ibu-ibu juga punya hak yang sama termasuk dalam hal berkarir. Pasti sudah lazim ketika perempuan zaman now bercita-cita untuk jadi wanita karir. Kebanyakan wanita karir juga katanya ngerasa punya kualitas kehidupan yang lebih baik dan kesejahteraan well-being mereka juga lebih baik. Di masa-masa bonus demografi nanti pemerintah udah pasang strategi untuk memperbanyak lapangan pekerjaan, tapi ga menutup kemungkinan juga kalo dunia kerja akan semakin kompetitif. Jadi, pesen aja nih, keberhasilan karir jangan sampai membuat terlena yang akhirnya ga memperhatikan kualitas generasi yang akan datang. semoga terlepas dari tuntutan karir, kita ga lupa untuk mendidik dan mengajarkan value kehidupan buat anak cucu kita. 

We don't inherit life from our ancestors, we borrow it from our childrens.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Setelah ngos-ngosan lari tiga putaran keliling jogging track GSP, aku dan partner joggingku melakukan pendinginan. Sambil menikmati matahari tenggelam, kali ini kita pendinginan dengan senam mulut. Bahasa bakunya, berbincang-bincang. Bahasa sehari-harinya, ngobrol. Hehe.

"Aku dari dulu pengen kalo udah kerja udah punya mobil dan kemana-mana sendiri. Kayaknya enak yaa"
"Gila sih. Aku kok gak kepikiran ya. Aku aja gak tau mau kerja di mana..," jawabku.
"Kamu mah enak, gak perlu susah-susah mikir macem-macem hidupmu udah terjamin"

Kita kenal sejak awal semester tiga karena hobi yang sama. Kita sama-sama berjuang dengan hobi kita dari yang gak bisa apa-apa sampe akhirnya bisa sama-sama dikasih kepercayaan yang luar biasa. Dia sukanya curhat tentang si cowo A sampe Z, aku sukanya minta pendapat buat ngambil keputusan. Aku cuma modal telinga sementara dia pake akal dan logika, jadi honmaap aja sih kalo emang aku suka ga ngebantu padahal namanya cewek udah di kasih pendapat tetep ngeyel juga kan wkw. Sekarang kita sering skripsian dan olahraga bareng. Kita seringkali senasib, walaupun sesekali dia mengeluh karena mungkin orangtuanya tidak seberuntung orangtuaku.

Aku suka nggak setuju kalo ada orang yang iri sama hidupku, termasuk Ibuku. Alhamdulillah memang, aku hidup di keluarga yang selalu (di)cukup(kan). Walaupun ga setiap tahun sekali pergi liburan, ga setiap bulan belanja baju atau sepatu, ga setiap ada hp keluaran terbaru langsung beli, ga tiap makan di restoran tapi yang jelas cukuplah buat perut kenyang ngantuk tidur lalu gendutan. Ibuku sering bilang, "Kalo dulu ibu tuh jaman mahasiswa susah, ngapa-ngapain sendiri, ga punya temen, mau makan aja mikir-mikir. Kamu kan sekarang udah gampang, ada bapak sama ibuk jadi tugasmu sekarang tinggal belajar yang rajin aja biar jadi orang pinter terus mau ngapa-ngapain jadi gampang".

Aku lebih beruntung karena menyambut kehidupan setelah ayah ibuku sudah mampu hidup dengan lebih 'mapan'. Sebelum aku lahir, tepatnya zaman kakakku masih kecil, orangtuaku sering ngalamin pindah-pindah kontrakan. Kalo ditarik mundur lagi, orangtuaku dua-duanya sama-sama bukan dari keluarga yang 'berada', pernah ngalamin jadi mahasiswa perantauan,  yang juga pernah ngerasain pahit-pahitnya kehidupan. Makanya aku suka iri sama temen-temen yang hidupnya merana di perantauan. Aneh ya? Bukannya tidak bersyukur, mungkin orang lain menganggap hidupku enak, tapi aku justru merasa hampa karena aku gak sepenuhnya ngerti rasanya berjuang. Kebanyakan kita dibesarkan di generasi yang tinggal belajar doang. Padahal, kehidupan ga melulu soal pinter dan soal pelajaran di kelas. Padahal, pinter itu relatif bukan terstandar karena tiap individu punya modal potensi yang berbeda-beda.

Kalo kata Kang Emil, kita hidup itu ada yang jadi takdir dan ada yang jadi nasib. Meskipun aku dan kawanku bertentangan masalah persepsi hidup kita masing-masing, meskipun kita punya latar belakang ekonomi yang berbeda, meskipun kita punya tujuan personal yang berbeda, tapi kita sama-sama sepakat kalo generasi yang akan datang harus mendapatkan pendidikan yang tepat dari unit sosial terkecil dalam hidupnya: keluarga. Biarlah latar belakang keluarga itu jadi takdir yang tidak bisa kita ubah. Sementara, masa depan adalah nasib yang dengan usaha kita bisa mengubahnya. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka" QS 13:11

Lanjut ke part 2
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me



Nur Zidny Ilmanafia | 1996 | Yogyakarta
Culture, humanity, technology, personal growth and spirituality enthusiast.

Follow Me

Labels

diary experience kkn opini psychology real story reflective spoof thoughts travel work

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
  • ▼  2018 (7)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  April (1)
    • ▼  March (2)
      • Dear Future Family pt. 2
      • Dear Future Family
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2016 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  October (2)
  • ►  2014 (6)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  May (1)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Gooyaabi Templates