• Home
  • About
  • Youtube

Spilling Thoughts

of ZIDNY ILMANAFIA

facebook google twitter tumblr instagram linkedin

"Udah lulus lama tapi ga dapet dapet kerja?" 
"mungkin, ia kuliah ga sesuai passion" 
"Kuliah teknik nuklir tapi kok kerjanya jadi hrd sih?" 
"mungkin, passionnya di situ"
"Aku stres banget kerja di sini"
"mungkin, kerjaanmu ga sesuai passion kamu" 

Dalam membuat keputusan karir ada banyak hal yang menjadi pertimbangan. Minat, bakat, gaji, lokasi, lingkungan, preferensi orang tua, dll. Aku rasa sekarang udah lebih banyak orangtua yang memberi kebebasan anaknya untuk memilih sendiri jalur karir mana yang ingin ditempuh. Kita udah cukup dewasa untuk menentukan masa depan kita. Enak ga enak sih sebenernya. Masalahnya kita udah tau belum ya, apa yang pengen kita lakukan di masa depan?

Dari banyak kisah sukses inspiratif, kebanyakan mereka yang sukses dan bahagia karena karir atau pekerjaan mereka merupakan bidang yang sudah sejak lama mereka sukai dan tekuni. Sebaliknya, mereka yang terkesan kurang bahagia dalam kehidupan karirnya punya riwayat ketidakselarasan bidang yang ditekuni dengan minatnya. Ini bikin kita punya pandangan bahwa pekerjaan yang ideal adalah seperti hobi yang dibayar. Seolah-olah makin meyakinkan nasehat yang bilang untuk follow your passion.

Gimana sih cara menemukan passion? 
Passion ditandai dengan energi yang positif dalam melakukan suatu aktivitas. Energi itu bikin kita memiliki perasaan tertantang. Kita jadi ga cepet puas dengan apa yang udah kita capai dan karya-karya yang kita buat. Ibarat main game, selalu pengen yang namanya naik level. Orang yang jago tari, belum tentu passionate sebagai penari. Bedanya terletak pada keinginan orang itu untuk mengupgrade kemampuannya melalui skill tari yg dimiliki. Dibilang passion ketika ia menyukai apa yang dilakukan dan selalu ingin berbuat lebih dan lebih lagi. Misalnya mulai dari mengikuti sanggar tari kemudian mengeksplor gerakan baru lalu menciptakan serangkaian gerakan untuk tarian baru sampai mengkonsep sebuah pertunjukan seni tari. Ada improvement dalam setiap level yang dilakukan.

Passion bukan suatu pertanyaan yang harus di jawab sekarang juga. Jangan cari passionmu, kata sebuah TED Talk. Ia datang dengan sendirinya melalui proses pencarian yang terus menerus dalam hidup. Kalo kita sibuk nyari passion, kita justru bisa kehilangan kesempatan yang akan mengubah hidup. Jadi, sebaliknya, lakukan aktivitas sepenuh hati untuk bisa menemukan apa yang benar-benar kita minati. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di sekitar kita. Dari pengalaman itu, kita akan mendapat feedback, hal apa yang kita lakukan dan selesaikan dengan baik serta apa yang ternyata kurang cocok dengan karakter dan diri kita. When we solve a problem and get a thanks from other people, that's when we actually find our passion.

Mirisnya, seringkali passion ni jadi kambing hitam ketika ada orang tiba-tiba banting stir pindah haluan dari satu bidang yang ditekuni ke bidang lain yang berbeda. Orang-orang cenderung menjadikan passion sebuah excuse jika tidak menyukai dan tidak bisa memberikan yang terbaik dalam kerja. Sebenernya ini salah satu miskonsepsi  tentang passion bahwa ia diartikan sebagai judgement berdasarkan perasaan suka dan tidak suka. 

Beruntung kalau apa yang kita tekuni sesuai dengan passion. Kalau enggak, bukankah egois kalau kita membencinya karena haus akan passion? Tidak semudah itu ferguso. Sebab realitanya sering kali kita harus dihadapkan pada pekerjaan yang mungkin bertentangan dengan diri kita.

Lantas, apakah lebih baik tersiksa dengan pekerjaan yang "bukan aku banget"?
Gagasan tentang passion bikin aku teringat tentang konsep ikhlas. Ikhlas tidak dibatasi perasaan berat atau ringan dan suka atau tidak suka. Dalam kondisi apapun, tuntunannya adalah untuk tetap dikerjakan. Ketika berat, ingatlah mungkin kita harus percaya, itung-itungannya: bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Mungkin saat ini adalah fase di mana diri ini harus bersusah-susah dahulu. Sementara bersenang-senangnya di masa yang akan datang atau di akhirat yang lebih kekal sebagaimana Allah telah menjanjikan. Jadikan rasa berat untuk berjuang meraih pahala yang lebih besar. Karena Rasulullah kepada Aisyah pernah berkata, "pahalamu senilai dengan kadar payahmu". Dan ketika benci, ingatlah "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (2: 216). Allah tidak menjadikan cinta dan benci sebagai tolak ukur ikhlasnya perbuatan. Yang penting, kerjakanlah, sampai hikmah-hikmah terungkap untuk menguatkan keikhlasan.

Persamaan passion dengan ikhlas adalah sama-sama proses yang tak kenal henti. Passion adalah energi, bukan soal cinta atau benci. So, do things with passion. Dan lebih dari itu, jadilah orang yang melakukan segala sesuatu penuh keikhlasan. Karena orang yang ikhlas selalu mencintai apa yang dilakukannya bukan cuma melakukan apa yang dicintainya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Take and give happens in the relationship with The Creator. He take something worth keeping from our lives but surely gives something better in return. We are created with both strength and weakness. There's this poor that was blessed with excellent interpersonal skills. While the rich was somewhat anti social. Or the classic story, where the good looking was dumb yet the ugly was smart and intellectual. So what's actually stopping you from being content and grateful?

 I guess its another comparison trap. That we live according to how people think about us. We use the other persons formula to solve our problems while it should be individually different. We tend to look on others strength easily, focusing ones weakness and look down on our own capabilities.

Self worth is problematic. Caring so much about the weakness makes it appeals even more. The confidence loss. So does the love for ones self. Have we forgotten that we should love ourself before receiving others love and loving them back?

You know what? Its not about getting rid of the incapability monster but rather accepting it as equal. Its not about pulling the rope, but putting it down. Everytime we're exposed to another weakness, think of it as a self-discovery. Make some self improvement so that the self is able to cope in adversity.

As stated in the beginning, we could take and give with God. Perhaps He took some aspect that makes you a weak person. But keep in mind, theres gotta be something you're capable of. Or maybe, it's a matter of time to realise you were blessed with power to change your weakness into something beneficial:)

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

What if the result doesn't worth?
The biggest question that keeps haunting my mind. At some moments I feel a very big excitement doing things I consider as my passion, but isn't it something human to feel in doubt and insecure about what the future may hold?

Recently, the national exam for high school students has been conducted. It has come to my attention since many students complained through the official instagram of the ministry of education. Sounds funny yet irony, that every year the national exam keeps getting protested. Reminds me of how the difficulty of the national exam was irrational during my high school.

I could never be clear whether to oppose the government or to support them, to complain like other students or not. My father always teach me the miracle of 'jalan tengah' and empathy. If I can assume, from the governor point of view, such questions was the best way to test the understanding of students. But for students, such exam was irrational and useless. Both side could be true, don't you think so?

I clearly remember days after the national exam was held, I didn't attribute failing to external factors. I told myself that I had nothing to lose, because I enjoyed the process of learning so many things. Hence, I accepted whatever the result was, while it was surprisingly the best result I had achieved. The same concept I used when I was asked about how will I respond if things don't go as my expectation, during the PPAN selection interview. I also use the term to name every exchange application folders.

The concept nothing to lose is very tough indeed. I might have lose some time, but I get somewhat valuable experience in return. It requires huge self acceptance, ikhlas, patience, and the ability to recharge your spirit back. Being ikhlas and patient is easy when you have truly accepted the condition you are facing and to accept that whatever happens in your life was meant to happen. Everything happens for a reason, whether its a blessing or a lesson. If He took something from you, then He will give you back something better. You know, it is easier to say than to practice. Acceptance might need time. While you keep denying, you might have the same question as I do: where does this test actually takes me? Ask human, they will give you 1001 ways to rome. But, I choose to ask help from God, He gives unbreakable promises and answers every problems through the holy Quran.

Sometimes we are hopeless, really really hopeless. We make mistakes, which made our life uncomfortable. We ask a lot of things to Him. So that he will give us mercy, show us the right way, ease trouble, and many other requests in life. He never rejects our prayer, but answers our prayer in three other ways: 1) Yes, or Yes but not now; 2) I have something better; or 3) I have something better in the hereafter. Giving up is not a choice. We never know what might happen. “Perhaps you hate a thing that is best for you, and you love a thing that is bad for you. Allah knows, while you know not.” (2:216).  When we feel like we've lost everything and there's nothing left to be done, remember "Surely Allah has purchased of the believers their lives and their belongings and in return has promised that they shall have Paradise." (9:111). What is the worth of dunya compared to the hereafter? Indeed, Allah does not fail in His promise.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Disclaimer: Read Part 1

Keluarga punya peran yang besar dalam ngebentuk perilaku. Coba lihat, hampir semua kasus perilaku bermasalah disumbang faktor keluarga.  Begitu juga mereka yang sukses, banyak juga yang didorong  support system yang kuat dari keluarga. Karir orangtua gemilang, rezeki melimpah tapi mereka tidak benar-benar punya figur orangtua yang memenuhi kebutuhan psikologis anak. Lupa kalo harus mendidik dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis anak. Masih ada orangtua yang selalu ingin memberikan yang terbaik buat anaknya, malah jatuhnya terlalu memanjakan. Misalnya, ada yang dengan gampang membelikan HP baru buat anaknya. Udah kayak beli cilok di pinggir jalan aja.

Kalo ngikutin prinsip hierarki kebutuhan, suatu kebutuhan dasar harus terpenuhi sebelum kebutuhan memenuhi kebutuhan lain. Istilahnya kebutuhan anak yg mereka berikan sebatas kebutuhan-kebutuhan dasar (e.g. sandang, pangan, dan papan). Sementara kebutuhan psikologis, seperti kasih sayang, perhatian, kepercayaan kurang terpenuhi dan menghambat anak mencapai aktualisasi dirinya. Alhasil jadilah pribadi yang konsumtif, hedon, dan banyak yang terjerumus ke hal-hal yang lebih memberikan belongingness kayak narkoba, zat adiktif, pergaulan bebas, dsb. Naudzubillahimindzalik.

Keluarga yang baik itu bukan berarti yang ga ada masalah. Masalah itu jelas makanan sehari-hari, hanya saja resiliensi atau ketahanan atau cara seseorang merespon suatu masalah pasti berbeda-beda. Di situlah peran keluarga untuk memberi dukungan, kenyamanan, agar kita bisa menyikapi kehidupan dengan lebih bijak. Tempat yang paling baik untuk mengadu adalah keluarga. Gimana pun juga, keluarga paling tau latar belakang diri kita, yang belum tentu teman atau orang terdekat lainnya bisa bener-bener ngerti dan ngasih solusi yang tepat. Biasanya hal-hal yang kita persepsi jadi masalah, itu juga bawaan dari pola pikir orangtua.

Susah ya, jadi orangtua yang harus mendidik anak dengan tepat. Harus belajar psikologi perkembangan, perkawinan, pendidikan anak dan remaja, yang totalnya bisa 30 sks sendiri. Itulah sebabnya mahasiswi psikologi sering disebut calon istri idaman, karena kuliahnya aja belajar tentang masa depan keluarga. Ah, bohong itu, katanya katanya aja, jangan percaya, buktiin yuk? Haha. Ngarep.

Berkaca dari pengalamanku sebagai anak, mendidik anak itu harus reasonable. Jaman SMP dulu, ayahku bahkan menunda-nunda membelikan aku hp baru, karena aku diminta untuk nabung. Beberapa bulan sampe harus bertahan dengan hp yang udah ga berfungsi dan cuma bisa ngelus dada karena ayahku tetep ga mau beliin gitu aja. Setiap main selalu pasang mupeng (muka pengen) liat hp temen-temen yang istilahnya udah seri terbaru. Padahal waktu itu kalo langsung beli pun sebenernya bisa dan uang yang aku tabung sebenernya juga pemberian ayahku. Dulu aku belum bisa terima tapi sekarang aku mulai sadar. Ternyata, aku anak pungut yang dibuang di deket pasar condongcatur😭 Terkedjoet. Ternyata ayahku, bukannya gak mau beliin hp baru tapi itulah salah satu caranya mengajarkanku untuk menghargai usaha, proses, ngerti susahnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan, terlepas dari rajin menabung yang katanya pangkal kaya.

Oke, seenak apapun hidup kita kelak, rasanya tetep harus mengajarkan keprihatinan. That's why, aku iri sama temen-temen yang merantau karena mereka berkesempatan hidup prihatin. Mereka yang merantau walaupun dari keluarga kalangan berada pun, pasti pernah lah ngerasa pengen pulang. Saat keinginan itu datang, biasanya sedang ada masalah kehidupan yang terjadi yang jadi bagian dari pendewasaan. Biasanya kalo ga lagi ada masalah mungkin emang lagi kangen aja, atau bisa juga lagi kehabisan uang jajan, ya nggak?

Kalo aku suka ngeluh ketika orangtuaku banyak kurangnya, sama halnya aku juga sampe sekarang belum bisa jadi anak yang baik. Mungkin karena aku anaknya gengsian, aku jarang curhat masalah-masalah kecil ke orangtuaku, yang kadang juga menyiksa diri sendiri. Padahal mengkomunikasikan tentang life lesson apa yang bisa diambil dari keprihatianan itu juga penting. Otherwise, malah bikin anak bertanya-tanya dan berspekulasi yang terlalu jauh.

Beberapa waktu lalu, pas heboh film Dilan semua orang seperti mengidolakan sesosok Iqbaal, pemeran karakter Dilan. Iqbaal dielu-elukan karena cara bercakapnya, perilakunya yang kedewasaan, romantis, cerdas, dan sayang keluarga. Banyaknya karakter positif di sosok Iqbaal ini pasti produk keberhasilan didikan di keluarga, batinku. Ternyata bener dong. Di suatu interview, bunda dari Iqbaal bercerita kalo sejak kecil mereka punya kebiasaan ngobrol bareng sebelum tidur. Mereka nyebutnya ritual malam, yang menjadi momen untuk menyambung komunikasi antara ibu dengan anak.

Komunikasi: kunci penting dalam hubungan anggota keluarga, dan juga hubungan interpersonal lainnya. Membangun komunikasi juga ga gampang. Bayangin aja, kamu yang hidup di zaman now yang mungkin ngerti dan ngikutin banget tren kekinian, harus bisa berinteraksi sama orang yang baru yang ga tau apa-apa dan ga bisa apa-apa: anakmu! Atau malah keadaan jadi terbalik, ketika anakmu sudah mengenal lebih banyak hal daripada yang kamu tau.

Berbincang-bincang adalah hal sepele yang mungkin biasa kita lakukan tapi jarang benar-benar kita maknai momentumnya. Padahal kita bisa bangun kedekatan dan komunikasi dengan ngobrol sebelum tidur atau lewat perbincangan ketika makan bersama. Duduk bersama di meja makan menciptakan momen untuk saling bertukar pikiran, setidaknya mengutarakan apa yang dirasakan di hari itu tanpa menggurui. Dari kebiasaan yang cuma sekedar nimpalin pembicaraan, lama-lama anak bakal bisa terbuka sama orang tua tentang permasalahan yang serius. Family time yang kayak gitu, katanya bisa meningkatkan kepercayaan diri, memiliki kemampuan sosial dan akademis yang baik, dan mengurangi resiko perilaku bermasalah. Bahkan ngobrol saat makan itu termasuk Sunnah lho, karena Rasulullah pun berbincang-bincang ketika makan bersama sahabatnya, ngobrolin tentang cuka! Kekuatan makan bareng itu gak sekedar pada nilai makanan dan kenyangnya, tapi juga kualitas kebersamaannya. Makanya kalo mau deket sama gebetan, sering-sering ajakin makan bareng!

Btw, kabarnya perekonomian Indonesia akan terus meningkat, lho. Gak sampe 2 tahun lagi, kita bakal ngalamin bonus demografi, di mana populasi angkatan kerja mencapai 70% dari total jumlah penduduk. Bersamaan juga maraknya kampanye kesetaraan gender, di mana ibu-ibu juga punya hak yang sama termasuk dalam hal berkarir. Pasti sudah lazim ketika perempuan zaman now bercita-cita untuk jadi wanita karir. Kebanyakan wanita karir juga katanya ngerasa punya kualitas kehidupan yang lebih baik dan kesejahteraan well-being mereka juga lebih baik. Di masa-masa bonus demografi nanti pemerintah udah pasang strategi untuk memperbanyak lapangan pekerjaan, tapi ga menutup kemungkinan juga kalo dunia kerja akan semakin kompetitif. Jadi, pesen aja nih, keberhasilan karir jangan sampai membuat terlena yang akhirnya ga memperhatikan kualitas generasi yang akan datang. semoga terlepas dari tuntutan karir, kita ga lupa untuk mendidik dan mengajarkan value kehidupan buat anak cucu kita. 

We don't inherit life from our ancestors, we borrow it from our childrens.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Setelah ngos-ngosan lari tiga putaran keliling jogging track GSP, aku dan partner joggingku melakukan pendinginan. Sambil menikmati matahari tenggelam, kali ini kita pendinginan dengan senam mulut. Bahasa bakunya, berbincang-bincang. Bahasa sehari-harinya, ngobrol. Hehe.

"Aku dari dulu pengen kalo udah kerja udah punya mobil dan kemana-mana sendiri. Kayaknya enak yaa"
"Gila sih. Aku kok gak kepikiran ya. Aku aja gak tau mau kerja di mana..," jawabku.
"Kamu mah enak, gak perlu susah-susah mikir macem-macem hidupmu udah terjamin"

Kita kenal sejak awal semester tiga karena hobi yang sama. Kita sama-sama berjuang dengan hobi kita dari yang gak bisa apa-apa sampe akhirnya bisa sama-sama dikasih kepercayaan yang luar biasa. Dia sukanya curhat tentang si cowo A sampe Z, aku sukanya minta pendapat buat ngambil keputusan. Aku cuma modal telinga sementara dia pake akal dan logika, jadi honmaap aja sih kalo emang aku suka ga ngebantu padahal namanya cewek udah di kasih pendapat tetep ngeyel juga kan wkw. Sekarang kita sering skripsian dan olahraga bareng. Kita seringkali senasib, walaupun sesekali dia mengeluh karena mungkin orangtuanya tidak seberuntung orangtuaku.

Aku suka nggak setuju kalo ada orang yang iri sama hidupku, termasuk Ibuku. Alhamdulillah memang, aku hidup di keluarga yang selalu (di)cukup(kan). Walaupun ga setiap tahun sekali pergi liburan, ga setiap bulan belanja baju atau sepatu, ga setiap ada hp keluaran terbaru langsung beli, ga tiap makan di restoran tapi yang jelas cukuplah buat perut kenyang ngantuk tidur lalu gendutan. Ibuku sering bilang, "Kalo dulu ibu tuh jaman mahasiswa susah, ngapa-ngapain sendiri, ga punya temen, mau makan aja mikir-mikir. Kamu kan sekarang udah gampang, ada bapak sama ibuk jadi tugasmu sekarang tinggal belajar yang rajin aja biar jadi orang pinter terus mau ngapa-ngapain jadi gampang".

Aku lebih beruntung karena menyambut kehidupan setelah ayah ibuku sudah mampu hidup dengan lebih 'mapan'. Sebelum aku lahir, tepatnya zaman kakakku masih kecil, orangtuaku sering ngalamin pindah-pindah kontrakan. Kalo ditarik mundur lagi, orangtuaku dua-duanya sama-sama bukan dari keluarga yang 'berada', pernah ngalamin jadi mahasiswa perantauan,  yang juga pernah ngerasain pahit-pahitnya kehidupan. Makanya aku suka iri sama temen-temen yang hidupnya merana di perantauan. Aneh ya? Bukannya tidak bersyukur, mungkin orang lain menganggap hidupku enak, tapi aku justru merasa hampa karena aku gak sepenuhnya ngerti rasanya berjuang. Kebanyakan kita dibesarkan di generasi yang tinggal belajar doang. Padahal, kehidupan ga melulu soal pinter dan soal pelajaran di kelas. Padahal, pinter itu relatif bukan terstandar karena tiap individu punya modal potensi yang berbeda-beda.

Kalo kata Kang Emil, kita hidup itu ada yang jadi takdir dan ada yang jadi nasib. Meskipun aku dan kawanku bertentangan masalah persepsi hidup kita masing-masing, meskipun kita punya latar belakang ekonomi yang berbeda, meskipun kita punya tujuan personal yang berbeda, tapi kita sama-sama sepakat kalo generasi yang akan datang harus mendapatkan pendidikan yang tepat dari unit sosial terkecil dalam hidupnya: keluarga. Biarlah latar belakang keluarga itu jadi takdir yang tidak bisa kita ubah. Sementara, masa depan adalah nasib yang dengan usaha kita bisa mengubahnya. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka" QS 13:11

Lanjut ke part 2
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Yes, life begins at the end of your comfort zone.

I used to be the type of person which stands in behind. I walk with my friends. Go out with my friends. I go out on activities which my friends does. I was less recognised from the people walked with me, as if I was invisible. I used to depend on other people, that I never knew my own potential. It's not that I'm always dependent on others, but I'm less dominant when being with another person. Some people, have like, explosive energies while mine is limited that they seem to take over me. Maybe they have mercy on me which slowly turns down my self esteem and defeats my mentality. Besides, I thought that I would be clumsy to walk alone. It would be awkward to buy a cup of coffee and sit down on a coffee shop alone. Like seriously? watching a movie alone? I thought people who does things alone are such a pity.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Rewind 2017

Tahun 2017, 2016, 2015. Semua hanya ukuran waktu yang dibuat manusia, tapi gak ada salahnya jika ukuran waktu satu tahun menjadi momen untuk mensyukuri apa yang telah kita alami dan untuk mengukur seberapa jauh jalanan yang kita lalui.

Buatku, tahun 2017 banyak menyimpan kisah. Bukan tentang hasil atau prestasi, tapi seluruh proses yang menyadarkan aku telah sampai di 'titik ini'. Aku memulainya dengan banyak-banyak cari masalah. Alhamdulillah, tidak hanya proses dan resolusi pergulatan yang aku alami, ternyata Allah menunjukkan tanda-tanda untuk bertaubat melalui peristiwa tak terhitung yang terjadi. Di tahun ini aku banyak melakukan perjalanan. Semua suka duka perjalanan berakhir pada satu kesimpulan: hanya kepada Nya lah kita kembali.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Don't stop, life keeps on going.

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran (QS: 103)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pondokan BBL-04

Hidup di Yogyakarta selama 19 tahun dan hampir 21 tahun selalu bersama orang tua, ini adalah kali pertama aku menjajal kehidupan di tempat baru, ya walaupun cuma dua bulan sih..... Tinggal jauh dari orang tua dan jauh dari segala keenakan hidup itu banyak memberikan makna hidup yang selama ini ga bermakna wkwk.

Kita dateng ke tempat ini cuma dengan membawa satu buah koper aja. Sementara tempat tinggal yang akan kita tinggali masih kosongan. Dengan sedikit bekal yang kita punya, kita mulai beli kasur (palembang), hanger, tali jemuran, tempat sampah, sapu, pel, keset, dan satu per satu perabotan rumah tangga. Kemampuan buat berinteraksi dan bernegosiasi dengan orang lain ternyata juga jadi modal yang untungnya berbuah pinjaman motor, helm, dispenser, kompor, dan kebutuhan sekunder lainnnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Inginku menyampaikan kekaguman pada seorang teman. Dulunya pendiam, pernah jadi anak nakal. Kini sudah berhijrah dan bahkan berani berdakwah.

Dakwah dengan cara yang menyenangkan. Tidak meninggi padahal ilmunya tinggi. Selalu merendah agar bisa terjamah.

Dia bukan teman yang dekat. Tapi dia figur yang dekat. Ya sama-sama mahasiswa dan melalui dinamika yang sama sebagai mahasiswa. Mungkin kesamaan itu yang bikin lebih mudah berempati dengannya. Dan meminjam kacamatanya untuk melihat perspektif yang sama tentang dunia. Baik ya, mau minjemin kacamata, hehe.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
2016, was a tough year. Also, a breakthrough-limit-year.

There are moments that I would just lay down in my bed and get tearful. I'm not being dramatic. It wasn't just once or twice, my heart was really fragile throughout the year. I get sensitive easily. Most of my time was stressful (and lonely). Even tested with depression scale, I was categorized in moderate depression. Gladly, I'm aware of the things that made me depressive. At some moments I would regret being a psychology student, because then I knew how unhealthy psychologically I was all this time. But on the other side, I should be grateful 'cause it was an outpatient cure for me too. hehe. Guess it was part of growing up where I must hardly leave my childhood and begin to struggle for the future.

Every cloud has a silver lining.

Despite the hard times I've been through, there are memories that I am grateful of. As I said before, this year I have been (trying to) break through my limit. 

As some of you may know, I don't really talk much with my friends or even in public. My grandma used to be a headmaster and a teacher, my dad is a lecture. And people (will) expect me to be like them in some way. Basically, both profession needs good communication skill (which I don't). I decided to participate as a co-trainer for the new student orientation in my campus. I do realize that it was pretty hard for me to spontaneously speak in public. I'm the kind of person which needs to write down a speech text the night before. But yea, at least I had an experience 'cause experience is the best teacher


Wreksodiningrat 9

Last but never least. I break through my physical and time limit with this team. So, we participated in this Acehnese dance festival in Jakarta. It was a really tiring month to practice almost everyday and night. I could actually call them home, but not really because when I'm with them I still have my mom telling me to come home. Ironically, we have anticipated to lose from the beginning (which we did lost). But yeah, the process we have been through was definitely an unforgettable experience. I learned so much, that we should never strive to win, but to feel satisfied with ourselves instead. We completely understand how we are different from the standards, but it just gives us satisfaction when we could give our best after all.


SGTAJ

I don't know what its gonna be like in 2017. I don't wanna hope for something too big and unrealistic. My wish and also my kind of resolution for this year is to be happy and make other people happy too. Bahagia itu sederhana,kan?

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Ketika ditanya apa pekerjaanku maka jawabannya adalah mahasiswa. Pernahkah kamu bertanya kenapa mahasiswa dikategorikan suatu pekerjaan? Well, kalo aku menjawab pertanyaanku sendiri secara tidak logis mungkin karena menjadi mahasiswa itu mengikat seperti bekerja. Bukan bermaksud nakut2in kok, kuliah itu justru banyak manfaatnya apalagi buat individu "cupu" yang butuh pengembangan diri seperti aku. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me



Nur Zidny Ilmanafia | 1996 | Yogyakarta
Culture, humanity, technology, personal growth and spirituality enthusiast.

Follow Me

Labels

diary experience kkn opini psychology real story reflective spoof thoughts travel work

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  March (1)
      • Istanbul (Intro)
  • ►  2020 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
  • ►  2018 (7)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2016 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  October (2)
  • ►  2014 (6)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  May (1)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Gooyaabi Templates