"Udah lulus lama tapi ga dapet dapet kerja?"
"mungkin, ia kuliah ga sesuai passion"
"Kuliah teknik nuklir tapi kok kerjanya jadi hrd sih?"
"mungkin, passionnya di situ"
"Aku stres banget kerja di sini"
"mungkin, kerjaanmu ga sesuai passion kamu"
"Aku stres banget kerja di sini"
"mungkin, kerjaanmu ga sesuai passion kamu"
Dalam membuat keputusan karir ada banyak hal yang menjadi pertimbangan. Minat, bakat, gaji, lokasi, lingkungan, preferensi orang tua, dll. Aku rasa sekarang udah lebih banyak orangtua yang memberi kebebasan anaknya untuk memilih sendiri jalur karir mana yang ingin ditempuh. Kita udah cukup dewasa untuk menentukan masa depan kita. Enak ga enak sih sebenernya. Masalahnya kita udah tau belum ya, apa yang pengen kita lakukan di masa depan?
Dari banyak kisah sukses inspiratif, kebanyakan mereka yang sukses dan bahagia karena karir atau pekerjaan mereka merupakan bidang yang sudah sejak lama mereka sukai dan tekuni. Sebaliknya, mereka yang terkesan kurang bahagia dalam kehidupan karirnya punya riwayat ketidakselarasan bidang yang ditekuni dengan minatnya. Ini bikin kita punya pandangan bahwa pekerjaan yang ideal adalah seperti hobi yang dibayar. Seolah-olah makin meyakinkan nasehat yang bilang untuk follow your passion.
Gimana sih cara menemukan passion?
Passion ditandai dengan energi yang positif dalam melakukan suatu aktivitas. Energi itu bikin kita memiliki perasaan tertantang. Kita jadi ga cepet puas dengan apa yang udah kita capai dan karya-karya yang kita buat. Ibarat main game, selalu pengen yang namanya naik level. Orang yang jago tari, belum tentu passionate sebagai penari. Bedanya terletak pada keinginan orang itu untuk mengupgrade kemampuannya melalui skill tari yg dimiliki. Dibilang passion ketika ia menyukai apa yang dilakukan dan selalu ingin berbuat lebih dan lebih lagi. Misalnya mulai dari mengikuti sanggar tari kemudian mengeksplor gerakan baru lalu menciptakan serangkaian gerakan untuk tarian baru sampai mengkonsep sebuah pertunjukan seni tari. Ada improvement dalam setiap level yang dilakukan.
Passion bukan suatu pertanyaan yang harus di jawab sekarang juga. Jangan cari passionmu, kata sebuah TED Talk. Ia datang dengan sendirinya melalui proses pencarian yang terus menerus dalam hidup. Kalo kita sibuk nyari passion, kita justru bisa kehilangan kesempatan yang akan mengubah hidup. Jadi, sebaliknya, lakukan aktivitas sepenuh hati untuk bisa menemukan apa yang benar-benar kita minati. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di sekitar kita. Dari pengalaman itu, kita akan mendapat feedback, hal apa yang kita lakukan dan selesaikan dengan baik serta apa yang ternyata kurang cocok dengan karakter dan diri kita. When we solve a problem and get a thanks from other people, that's when we actually find our passion.
Mirisnya, seringkali passion ni jadi kambing hitam ketika ada orang tiba-tiba banting stir pindah haluan dari satu bidang yang ditekuni ke bidang lain yang berbeda. Orang-orang cenderung menjadikan passion sebuah excuse jika tidak menyukai dan tidak bisa memberikan yang terbaik dalam kerja. Sebenernya ini salah satu miskonsepsi tentang passion bahwa ia diartikan sebagai judgement berdasarkan perasaan suka dan tidak suka.
Beruntung kalau apa yang kita tekuni sesuai dengan passion. Kalau enggak, bukankah egois kalau kita membencinya karena haus akan passion? Tidak semudah itu ferguso. Sebab realitanya sering kali kita harus dihadapkan pada pekerjaan yang mungkin bertentangan dengan diri kita.
Lantas, apakah lebih baik tersiksa dengan pekerjaan yang "bukan aku banget"?
Gagasan tentang passion bikin aku teringat tentang konsep ikhlas. Ikhlas tidak dibatasi perasaan berat atau ringan dan suka atau tidak suka. Dalam kondisi apapun, tuntunannya adalah untuk tetap dikerjakan. Ketika berat, ingatlah mungkin kita harus percaya, itung-itungannya: bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Mungkin saat ini adalah fase di mana diri ini harus bersusah-susah dahulu. Sementara bersenang-senangnya di masa yang akan datang atau di akhirat yang lebih kekal sebagaimana Allah telah menjanjikan. Jadikan rasa berat untuk berjuang meraih pahala yang lebih besar. Karena Rasulullah kepada Aisyah pernah berkata, "pahalamu senilai dengan kadar payahmu". Dan ketika benci, ingatlah "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (2: 216). Allah tidak menjadikan cinta dan benci sebagai tolak ukur ikhlasnya perbuatan. Yang penting, kerjakanlah, sampai hikmah-hikmah terungkap untuk menguatkan keikhlasan.
Persamaan passion dengan ikhlas adalah sama-sama proses yang tak kenal henti. Passion adalah energi, bukan soal cinta atau benci. So, do things with passion. Dan lebih dari itu, jadilah orang yang melakukan segala sesuatu penuh keikhlasan. Karena orang yang ikhlas selalu mencintai apa yang dilakukannya bukan cuma melakukan apa yang dicintainya.
Persamaan passion dengan ikhlas adalah sama-sama proses yang tak kenal henti. Passion adalah energi, bukan soal cinta atau benci. So, do things with passion. Dan lebih dari itu, jadilah orang yang melakukan segala sesuatu penuh keikhlasan. Karena orang yang ikhlas selalu mencintai apa yang dilakukannya bukan cuma melakukan apa yang dicintainya.








