2017: A long journey
![]() |
| Rewind 2017 |
Tahun 2017, 2016, 2015. Semua hanya ukuran waktu yang dibuat manusia, tapi gak ada salahnya jika ukuran waktu satu tahun menjadi momen untuk mensyukuri apa yang telah kita alami dan untuk mengukur seberapa jauh jalanan yang kita lalui.
Buatku, tahun 2017 banyak menyimpan kisah. Bukan tentang hasil atau prestasi, tapi seluruh proses yang menyadarkan aku telah sampai di 'titik ini'. Aku memulainya dengan banyak-banyak cari masalah. Alhamdulillah, tidak hanya proses dan resolusi pergulatan yang aku alami, ternyata Allah menunjukkan tanda-tanda untuk bertaubat melalui peristiwa tak terhitung yang terjadi. Di tahun ini aku banyak melakukan perjalanan. Semua suka duka perjalanan berakhir pada satu kesimpulan: hanya kepada Nya lah kita kembali.
Bermula dengan cerita umrah di awal tahun, yang hampir seperti tahu bulat yang digoreng dadakan limaratusan. Rencana keluargaku untuk berangkat umrah bener-bener mendadak. Cepet-cepet bikin paspor, urus vaksinasi, untuk visa, beli berbagai skincare, dsb. Hampir sudah siap, mendadak memutuskan untuk alhamdulillah memberangkatkan nenek juga. Ada aja yang harus diurus. Masih dengan konsep dadakan, kita ikut manasik hanya satu kali, itupun hanya membahas teknis keberangkatan saja. Sebenernya gak perlu khawatir karena rata-rata biro umrah akan membimbing selama perjalanan di tanah suci, di dalam bus sekalipun. Tapi gak ada salahnya kan buat tau lebih dulu? Namanya juga hidup di era teknologi, yang bisa bikin semacam cenayang mau ngapain di sana nanti. Kepo-kepo dulu sebelum travelling biar bisa memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Mau tidak mau, aku harus belajar sendiri tentang tata cara ibadah umrah. Mulailah googling googling dari tentang ibadah umrah sampe sejarah situs-situs penting dalam agama Islam khususnya Madinah dan Makkah. Berbagai kajian di youtube juga mulai ditontonin untuk mempersiapkan dari segi rohani. Nggak mau nyesel juga kalo baru penasaran nanti waktu udah pulang.
KKN juga menyimpan berbagai kenangan. KKN banyak mengajarkanku tugas dan fungsi hidup kita sebagai manusia yang bermasyarakat dan bermanfaat. Bertahun-tahun mencari ilmu, lebih banyak berkesan pembelajaran ketika di lapangan. After all, the fruit of knowledge is by enacting upon it. Dari esensi kegiatannya sih seperti itu. Lebih dari itu, banyak ketrampilan mengatur hidup dan ketrampilan praktis lainnya yang terasah. Bersyukur ditempatkan dengan teman-teman tim, khususnya pondokan yang berisi orang-orang hebat yang ideal sebagai keluarga dan ideal dalam mengurus rumah tangga. Tipe-tipe wanita idaman yang akan membina keluarga yang harmonis gitudeh wkwk. Kita punya kebiasaan makan bareng dan solidaritas yang mantaps. Setiap kamis adalah jadwal piketku, mulai dari nyapu, ngepel, buang sampah, cuci piring, masak nasi, dan nyiapin lauk buat sepondokan. Di hari-hari lainnya juga semua tertib buat ngelaksanain tugas piket. Ada yang hampir pernah lupa masak nasi sampe akhirnya semua harus menunda kelaparan, ada yang bangun siang padahal lantai pondokan udah kayak lapangan sepakbola yang berpasir, ada yang lupa buang sampah sampe-sampe menggunung dan dieker-eker ayam, ada yang lupa cuci piring pas air nyala jadi ketika jamnya makan ga punya piring. Siapa diaa? Sesekali pasti semua pernah lah, namanya juga, manusia. Sekalinya ga tertib, kita harus siapin telinga karena bakal panas 'diingatkan' dengan menggunakan volume suara yang tinggi wkwk. Walaupun dalam sehari kita bisa lelah karena banyaknya program (atau lelah karena piket), kita hampir selalu punya waktu untuk ngobrol ngalor ngidul sebelum tidur. Mungkin gak segayeng atau sehijau rumput tetangga, tapi kita saling membangun dan mendewasakan lewat perbedaan latar belakang keluarga, agama, dan nilai-nilai yang kita bagikan.
Di postingan sebelumnya aku bercerita bagaimana KKN membuatku untuk mulai mandiri dan menentukan arah hidupku sendiri. Ada sebuah momen yang kuingat, pada sebuah perbincanganku dengan temanku seorang kristiani, di siang-siang ketika waktunya Jumatan. Temanku ini cerdas dan kritis. Dia melontarkan sebuah pertanyaan tentang wanita yang tidak diwajibkan untuk pergi sholat Jumat. Deg. Hening. Sontak aku membisu. Kenapa aku diam? Kenapa aku tidak bisa menjawabnya? Mungkin aku tahu jawabannya, hanya saja aku sudah terlalu lama hanya mengikuti apa yang menjadi kewajiban tanpa benar-benar memahami untuk apa amalan itu wajib dilakukan?
Kesombongan dan kelalaian sebagai hamba-Nya bermula dari tidak tahu. Maka pemantik-pemantik rasa ingin tahu mengantarku belajar sedikit demi sedikit tentang sejarah dan awal mula agamaku serta dasar-dasar ajarannya. Sepakat dengan mba Gitasav, Islam itu ternyata indah dan luas, hanya saja tidak semua pemeluknya benar-benar mengenalnya. Semua perkara di era ini sudah ada pada sebuah pedoman yang hakiki, namun tidak semua benar-benar memegang teguh ayat-ayatnya kembali. Begitu pula aku, selama ini.
***
Aku ingin bercerita lagi tentang perjalanan SGTI. Perjalanan ini pernah aku bahas di post sebelumnya juga. Dibandingkan perjalanan lainnya, ini adalah perjalanan paaaling panjang. Ya salah satunya karena perjalanan dimulai bahkan dari tahun sebelumnya. Setelah kembali ke tanah air, kami belum bisa menyebut sampai di tujuan. Kami yang terbagi dua, akhirnya berujung pada kata sepakat: untuk berdamai dengan pahitnya masa lalu dan membentuk tim baru dengan semangat yang baru tanpa ada paksaan dan perasaan 'berhutang budi'. Meskipun tidak utuh seperti di awal, tetapi semua telah ikhlas dan telah menentukan jalan terbaik masing-masing. Bukannya hidup ini tentang pilihan?
Kami yang berangkat memang pada awalnya tidak benar-benar siap untuk berangkat, termasuk jujur aja ye, secara finansial. Dalam perjalanan ini, memang banyak keputusan yang awalnya dirasa diambil kurang tepat. Seharusnya ada pilihan lain yang mestinya lebih mudah tetapi kita seperti menutup mata untuk pilihan-pilihan yang menghentikan langkah. Ya kita memang sempet gak yakin bisa berangkat. Mungkin memang seharusnya begitu. Tapi takdir mengatakan kalo kami harus berangkat sehingga akhirnya kita berangkat juga meski dalam kekurangan. Dengan kata lain: nekat.
Dan ketika kembali kami harus melanjutkan perjuangan yang belum usai, mencukupkan kekurangan di awal tadi. Di sini, kita benar-benar belajar untuk sabar, gigih, dan saling menguatkan. Lagi-lagi beruntung, karena berada diantara orang-orang yang telah satu visi. Meski penuh tekanan, rintangan, dan ketidapastian tapi terus hadapi cobaan dengan kesabaran. Kami masih terus berjuang penuh dedikasi. Bahkan disambi skripsi, magang, ada pula yang nyambi kerja demi mengais rezeki. Singkatnya, di penghujung tahun ternyata sabar itu berbuah manis pula dengan anugrah yang datang dari arah yang benar-benar tidak kami sangka. Pada akhirnya, aku bisa meyakinkan, bahwa tidak ada penyesalan dan tidak ada keputusan yang salah jika kita memang benar-benar mengupayakan yang terbaik yang kita miliki. Semua akan manis pada waktunya.
Di lain sisi, aku pernah merasa lelah akan semua tuntutan kuliah. Jadwal yang padat, materi yang luar biasa overload. Sementara aku masih belum tau, kemana aku akan pergi setelah lulus nanti? Bahkan rasanya seperti tidak punya kesempatan untuk berpikir. Hanya dikejar-kejar rutinitas dan formalitas. Begitulah saat aku sedang demotivasi. Kadang-kadang aku masih suka berusaha menjauhkan diri dari perasaan tidak tepat berada di sini yang kerap menghantui. Saat itu, aku yang sudah berada di penghujung studiku, dihadapkan dengan dua pilihan untuk segera lulus dengan membanggakan atau setidaknya punya jejak akademik di luar negeri. Pilihan pertama sedikit kemungkinan untuk bisa terpenuhi, sehingga aku cepat-cepat membangun mimpi untuk pilihan kedua, yang ternyata juga terlambat. Iya aku terlambat menyadari pilihan kedua pun udah gak mungkin lagi. Ternyata memang aku banyak melewatkan kesempatan. Sama halnya SGTI, istilahnya aku sudah terlanjur basah untuk berhenti atau memulai kembali. Kini aku sedang membangun kembali mimpi. Terlalu banyak nikmat yang bisa disyukuri, daripada disesali. Bukankah semua akan manis pada waktunya?
SGTI dan akademik yang seharusnya berjalan beriringan. Begitu pula saling beriringan dalam meninggalkan banyak luka gores di hati, kesedihan dan pikiran-pikiran negatif. Ketika senggang aku berusaha mengisi hariku dengan kesibukan-kesibukan agar aku dijauhkan dari kesedihan yang berlarut. Hingga suatu hari aku pergi ke toko buku dan menemukan buku yang langsung memikat hati. Aku, yang sedang dihantui kepesimisan seperti melihat sebuah buku yang berbicara kepada hatiku. God, I Miss You. Gak ada kata-kata yang lebih pas untuk menggambarkan apa yang jiwaku butuhkan saat itu. Aku terpana. Hatiku terpanggil. Hanya dari judul, aku bisa jatuh hati. Isinya pun gak kalah memotivasi, karena seolah-olah si penulis ini sangat mengerti apa yang sedang aku hadapi. Tidak mungkin aku mengabaikan satu lagi tanda untuk berserah diri.
Sabar dan ikhtiar. Yakinkan dalam hati, tidak ada penantian yang sia-sia apabila diiringi dengan usaha. Keresahanku sepanjang tiga ratus enam puluh lima hari, akhirnya terlewati. Seperti memberikan bukti, bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan selalu ada kemudahan, sungguh sesudah kesulitan selalu ada kemudahan.
***
Setelah semua yang terjadi, aku juga bersyukur atas pertemuan denganmu, hehe, di persimpanganku memilih untuk meluruskan hati. Meski bukan sesuatu yang berarti, namun kita bertemu di hari yang baik dan pada kesempatan yang baik pula. Bagiku, aku tidak mungkin mengabaikan pertanda untuk segera berbenah dan memantaskan diri sekali lagi.
Terlepas dari semua yang pernah membuatku berada di bawah atau bahkan di atas, selalu ada hikmah yang aku cari. Memang kadang ujian datang dalam bentuk kesulitan. Namun kita sering terbuai dengan ujian yang berbentuk kesenangan. Ingatlah, dalam hidup ini kita terus diuji😊


0 comments