• Home
  • About
  • Youtube

Spilling Thoughts

of ZIDNY ILMANAFIA

facebook google twitter tumblr instagram linkedin

Memasuki usia quarter-life, mulai banyak muncul hal-hal yang perlu dipikirkan. Abis ini mau ke mana? Ngapain? Dan yang kebanyakan bikin baper sekaligus nyesek adalah: sama siapa?

Belakangan intensitas curhatan kegalauan untuk memilih calon pasangan mulai meningkat. Ada yang punya banyak pilihan dan bingung harus milih yang mana. Ada yang kemana-mana selalu bersama mendedikasikan waktu untuk si dia tapi gak pernah ada status yang jelas. Ada juga yang susah membangun hubungan intim sama orang lain. Ada yang karena punya niat menikah akhirnya memutuskan untuk berhijrah. Ada pula yang sudah sama-sama nyaman tapi berbeda arah dan tujuan. Ada. Siapa? Pikir sendiri.

Rasanya begitu sesak dihantui orang-orang yang so called budak cinta ini, tapi gak boleh munafik akupun mulai kepikiran. Terutama setelah sebuah percakapan dengan dosen pembimbing, "Ayo cepetan diselesaiin skripsinya biar bisa melanjutkan ke tahap perkembangan selanjutnya!" "Waduuh kek mana tuh pak?" "Ya bekerja apa sekolah apa menikah?". Entah kenapa momennya juga bebarengan sama himbauan dari bapak sama ibu untuk memastikan life plan setelah lulus. Biar keliatan punya planning, salah satu life goals ku adalah menikah di tahun 2021, tepatnya tanggal 10 november. Aminin boleh kali ya? Haha. Btw kenapa pake tanggal taun? Bagus aja gitu tanggalnya, 10-11-2021. Wkwk. Namanya target ya kan, meleset dikit dak apa lah. Atau 10-10-2020 ya? Eh, nanti dulu deh.

Menihkah, memang bukan perkara yang sederhana. Ya. Tau kok. Apalah aku ini yang masih suka ndusel-ndusel ibuk kalo di rumah, kok tiba-tiba minta nikah. Apalah aku yang imannya masih kayak sinyal 4G di arung dalam; lemah dan hanya kuat di saat dan tempat tertentu. Aku pun suka menertawakan diri sendiri yang punya target nikah yang tidak realistis. Pertama sih ngetawain karena belum ada calon. Padahal syarat menikah kan kalih, nggih, kalih sinten? Kedua, ngetawain diri sendiri yang ga punya bekal apa-apa buat menikah. Hla aku tuh masih ‘disuapin’ belum bisa cari makan sendiri, kok mau nunut sama sesosok lelaki tak dikenal? Ketiga, ya emang suka ketawa aja😆Receh betuul!

Daripada stres mikirin besok nikah sama siapa, makan apa, kenapa nggak menikmati masa-masa lajang aja dulu? untuk memantaskan diri? Ya kan... Bukan membela kaum jomblo kok, tapi sendiri ga seburuk itu loh. Coba pikir baik-baik, hal-hal apa yang bisa kita nikmati ketika sendiri? Kita punya waktu untuk lebih mengapresiasi diri sendiri. Kita punya waktu untuk mencintai diri sendiri. Manusia kan tercipta sempurna dengan ketidaksempurnaannya. Setiap individu pasti punya kekuatan dan kelemahan masing-masing. Dan itulah yang membuat seseorang unik. Sebagai orang yang beriman, yang berhak menerima cinta terbesar kita adalah Sang Pencipta kita. “Orang-orang yang beriman sangat mendalam cintanya kepada Allah.” (2:165). Mencintai makhluk lain, termasuk mencintai diri sendiri, juga didasari cinta kepada Allah. Kalo sebagai warga negara yang baik, cintailah ploduk ploduk indonesia. Heheheh.😆

Kadang tuh kita terburu buru sama tuntutan sosial. Wah si ini udah begini. Si itu udah begitu. Rumput tetangga selalu lebih hijau duluan. Ya jelas, tetangganya sawah semua. Sampe kita lupa sama diri kita sendiri. Siapa sih aku? Apa sih kelebihan dan kelemahanku? Apa sih misi dalam hidupku? Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu gak muncul ketika kita sibuk memenuhi ekspektasi orang lain. To live your life to the fullest, kenali kekuatan dan menerima kelemahan diri. Jadinya kita lebih mawas diri, tau batasan apa yang bisa kita lakukan dan yang enggak. Tidak mudah terjebak dalam comparison trap. Tidak mudah tergoyahkan dengan tren nikah muda, jika memang kita sadar kita belum mampu.

Manfaatin masa masa ini juga untuk ngebangun mimpi dan cita cita hidup. Bukan berarti punya cita cita buat diri sendiri tuh ga bisa berbagi hidup sama orang lain. Perkara menikah itu kan bisa saling kolaborasi mimpi. Cie gitu.  Ngebangun relasi dan silaturahmi juga penting. Karena toh, gimana mau punya pasangan kalo kitanya juga ga bergaul ye kan..

Ingat ya, hidup itu singkat; cuma lima huruf! Wkwkwk. Hidup itu cuma sekali. Ngerasain muda juga ga selamanya. Ngerasain bebas apalagi. Gak usah buru-buru ngikutin arus. Semua orang punya waktunya masing-masing. Just trust the timing of your life. Banyak-banyaklah kita berkaca. Mengenali siapa diri kita sebenarnya. Memperbaiki diri hingga tiba saat yang dinanti. Tenang, takdir kita selama hidup itu sudah ditetapkan Allah, kok. Kita tinggal berusaha, bersabar, dan bersyukur selalu. :)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Take and give happens in the relationship with The Creator. He take something worth keeping from our lives but surely gives something better in return. We are created with both strength and weakness. There's this poor that was blessed with excellent interpersonal skills. While the rich was somewhat anti social. Or the classic story, where the good looking was dumb yet the ugly was smart and intellectual. So what's actually stopping you from being content and grateful?

 I guess its another comparison trap. That we live according to how people think about us. We use the other persons formula to solve our problems while it should be individually different. We tend to look on others strength easily, focusing ones weakness and look down on our own capabilities.

Self worth is problematic. Caring so much about the weakness makes it appeals even more. The confidence loss. So does the love for ones self. Have we forgotten that we should love ourself before receiving others love and loving them back?

You know what? Its not about getting rid of the incapability monster but rather accepting it as equal. Its not about pulling the rope, but putting it down. Everytime we're exposed to another weakness, think of it as a self-discovery. Make some self improvement so that the self is able to cope in adversity.

As stated in the beginning, we could take and give with God. Perhaps He took some aspect that makes you a weak person. But keep in mind, theres gotta be something you're capable of. Or maybe, it's a matter of time to realise you were blessed with power to change your weakness into something beneficial:)

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

What if the result doesn't worth?
The biggest question that keeps haunting my mind. At some moments I feel a very big excitement doing things I consider as my passion, but isn't it something human to feel in doubt and insecure about what the future may hold?

Recently, the national exam for high school students has been conducted. It has come to my attention since many students complained through the official instagram of the ministry of education. Sounds funny yet irony, that every year the national exam keeps getting protested. Reminds me of how the difficulty of the national exam was irrational during my high school.

I could never be clear whether to oppose the government or to support them, to complain like other students or not. My father always teach me the miracle of 'jalan tengah' and empathy. If I can assume, from the governor point of view, such questions was the best way to test the understanding of students. But for students, such exam was irrational and useless. Both side could be true, don't you think so?

I clearly remember days after the national exam was held, I didn't attribute failing to external factors. I told myself that I had nothing to lose, because I enjoyed the process of learning so many things. Hence, I accepted whatever the result was, while it was surprisingly the best result I had achieved. The same concept I used when I was asked about how will I respond if things don't go as my expectation, during the PPAN selection interview. I also use the term to name every exchange application folders.

The concept nothing to lose is very tough indeed. I might have lose some time, but I get somewhat valuable experience in return. It requires huge self acceptance, ikhlas, patience, and the ability to recharge your spirit back. Being ikhlas and patient is easy when you have truly accepted the condition you are facing and to accept that whatever happens in your life was meant to happen. Everything happens for a reason, whether its a blessing or a lesson. If He took something from you, then He will give you back something better. You know, it is easier to say than to practice. Acceptance might need time. While you keep denying, you might have the same question as I do: where does this test actually takes me? Ask human, they will give you 1001 ways to rome. But, I choose to ask help from God, He gives unbreakable promises and answers every problems through the holy Quran.

Sometimes we are hopeless, really really hopeless. We make mistakes, which made our life uncomfortable. We ask a lot of things to Him. So that he will give us mercy, show us the right way, ease trouble, and many other requests in life. He never rejects our prayer, but answers our prayer in three other ways: 1) Yes, or Yes but not now; 2) I have something better; or 3) I have something better in the hereafter. Giving up is not a choice. We never know what might happen. “Perhaps you hate a thing that is best for you, and you love a thing that is bad for you. Allah knows, while you know not.” (2:216).  When we feel like we've lost everything and there's nothing left to be done, remember "Surely Allah has purchased of the believers their lives and their belongings and in return has promised that they shall have Paradise." (9:111). What is the worth of dunya compared to the hereafter? Indeed, Allah does not fail in His promise.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Disclaimer: Read Part 1

Keluarga punya peran yang besar dalam ngebentuk perilaku. Coba lihat, hampir semua kasus perilaku bermasalah disumbang faktor keluarga.  Begitu juga mereka yang sukses, banyak juga yang didorong  support system yang kuat dari keluarga. Karir orangtua gemilang, rezeki melimpah tapi mereka tidak benar-benar punya figur orangtua yang memenuhi kebutuhan psikologis anak. Lupa kalo harus mendidik dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis anak. Masih ada orangtua yang selalu ingin memberikan yang terbaik buat anaknya, malah jatuhnya terlalu memanjakan. Misalnya, ada yang dengan gampang membelikan HP baru buat anaknya. Udah kayak beli cilok di pinggir jalan aja.

Kalo ngikutin prinsip hierarki kebutuhan, suatu kebutuhan dasar harus terpenuhi sebelum kebutuhan memenuhi kebutuhan lain. Istilahnya kebutuhan anak yg mereka berikan sebatas kebutuhan-kebutuhan dasar (e.g. sandang, pangan, dan papan). Sementara kebutuhan psikologis, seperti kasih sayang, perhatian, kepercayaan kurang terpenuhi dan menghambat anak mencapai aktualisasi dirinya. Alhasil jadilah pribadi yang konsumtif, hedon, dan banyak yang terjerumus ke hal-hal yang lebih memberikan belongingness kayak narkoba, zat adiktif, pergaulan bebas, dsb. Naudzubillahimindzalik.

Keluarga yang baik itu bukan berarti yang ga ada masalah. Masalah itu jelas makanan sehari-hari, hanya saja resiliensi atau ketahanan atau cara seseorang merespon suatu masalah pasti berbeda-beda. Di situlah peran keluarga untuk memberi dukungan, kenyamanan, agar kita bisa menyikapi kehidupan dengan lebih bijak. Tempat yang paling baik untuk mengadu adalah keluarga. Gimana pun juga, keluarga paling tau latar belakang diri kita, yang belum tentu teman atau orang terdekat lainnya bisa bener-bener ngerti dan ngasih solusi yang tepat. Biasanya hal-hal yang kita persepsi jadi masalah, itu juga bawaan dari pola pikir orangtua.

Susah ya, jadi orangtua yang harus mendidik anak dengan tepat. Harus belajar psikologi perkembangan, perkawinan, pendidikan anak dan remaja, yang totalnya bisa 30 sks sendiri. Itulah sebabnya mahasiswi psikologi sering disebut calon istri idaman, karena kuliahnya aja belajar tentang masa depan keluarga. Ah, bohong itu, katanya katanya aja, jangan percaya, buktiin yuk? Haha. Ngarep.

Berkaca dari pengalamanku sebagai anak, mendidik anak itu harus reasonable. Jaman SMP dulu, ayahku bahkan menunda-nunda membelikan aku hp baru, karena aku diminta untuk nabung. Beberapa bulan sampe harus bertahan dengan hp yang udah ga berfungsi dan cuma bisa ngelus dada karena ayahku tetep ga mau beliin gitu aja. Setiap main selalu pasang mupeng (muka pengen) liat hp temen-temen yang istilahnya udah seri terbaru. Padahal waktu itu kalo langsung beli pun sebenernya bisa dan uang yang aku tabung sebenernya juga pemberian ayahku. Dulu aku belum bisa terima tapi sekarang aku mulai sadar. Ternyata, aku anak pungut yang dibuang di deket pasar condongcatur😭 Terkedjoet. Ternyata ayahku, bukannya gak mau beliin hp baru tapi itulah salah satu caranya mengajarkanku untuk menghargai usaha, proses, ngerti susahnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan, terlepas dari rajin menabung yang katanya pangkal kaya.

Oke, seenak apapun hidup kita kelak, rasanya tetep harus mengajarkan keprihatinan. That's why, aku iri sama temen-temen yang merantau karena mereka berkesempatan hidup prihatin. Mereka yang merantau walaupun dari keluarga kalangan berada pun, pasti pernah lah ngerasa pengen pulang. Saat keinginan itu datang, biasanya sedang ada masalah kehidupan yang terjadi yang jadi bagian dari pendewasaan. Biasanya kalo ga lagi ada masalah mungkin emang lagi kangen aja, atau bisa juga lagi kehabisan uang jajan, ya nggak?

Kalo aku suka ngeluh ketika orangtuaku banyak kurangnya, sama halnya aku juga sampe sekarang belum bisa jadi anak yang baik. Mungkin karena aku anaknya gengsian, aku jarang curhat masalah-masalah kecil ke orangtuaku, yang kadang juga menyiksa diri sendiri. Padahal mengkomunikasikan tentang life lesson apa yang bisa diambil dari keprihatianan itu juga penting. Otherwise, malah bikin anak bertanya-tanya dan berspekulasi yang terlalu jauh.

Beberapa waktu lalu, pas heboh film Dilan semua orang seperti mengidolakan sesosok Iqbaal, pemeran karakter Dilan. Iqbaal dielu-elukan karena cara bercakapnya, perilakunya yang kedewasaan, romantis, cerdas, dan sayang keluarga. Banyaknya karakter positif di sosok Iqbaal ini pasti produk keberhasilan didikan di keluarga, batinku. Ternyata bener dong. Di suatu interview, bunda dari Iqbaal bercerita kalo sejak kecil mereka punya kebiasaan ngobrol bareng sebelum tidur. Mereka nyebutnya ritual malam, yang menjadi momen untuk menyambung komunikasi antara ibu dengan anak.

Komunikasi: kunci penting dalam hubungan anggota keluarga, dan juga hubungan interpersonal lainnya. Membangun komunikasi juga ga gampang. Bayangin aja, kamu yang hidup di zaman now yang mungkin ngerti dan ngikutin banget tren kekinian, harus bisa berinteraksi sama orang yang baru yang ga tau apa-apa dan ga bisa apa-apa: anakmu! Atau malah keadaan jadi terbalik, ketika anakmu sudah mengenal lebih banyak hal daripada yang kamu tau.

Berbincang-bincang adalah hal sepele yang mungkin biasa kita lakukan tapi jarang benar-benar kita maknai momentumnya. Padahal kita bisa bangun kedekatan dan komunikasi dengan ngobrol sebelum tidur atau lewat perbincangan ketika makan bersama. Duduk bersama di meja makan menciptakan momen untuk saling bertukar pikiran, setidaknya mengutarakan apa yang dirasakan di hari itu tanpa menggurui. Dari kebiasaan yang cuma sekedar nimpalin pembicaraan, lama-lama anak bakal bisa terbuka sama orang tua tentang permasalahan yang serius. Family time yang kayak gitu, katanya bisa meningkatkan kepercayaan diri, memiliki kemampuan sosial dan akademis yang baik, dan mengurangi resiko perilaku bermasalah. Bahkan ngobrol saat makan itu termasuk Sunnah lho, karena Rasulullah pun berbincang-bincang ketika makan bersama sahabatnya, ngobrolin tentang cuka! Kekuatan makan bareng itu gak sekedar pada nilai makanan dan kenyangnya, tapi juga kualitas kebersamaannya. Makanya kalo mau deket sama gebetan, sering-sering ajakin makan bareng!

Btw, kabarnya perekonomian Indonesia akan terus meningkat, lho. Gak sampe 2 tahun lagi, kita bakal ngalamin bonus demografi, di mana populasi angkatan kerja mencapai 70% dari total jumlah penduduk. Bersamaan juga maraknya kampanye kesetaraan gender, di mana ibu-ibu juga punya hak yang sama termasuk dalam hal berkarir. Pasti sudah lazim ketika perempuan zaman now bercita-cita untuk jadi wanita karir. Kebanyakan wanita karir juga katanya ngerasa punya kualitas kehidupan yang lebih baik dan kesejahteraan well-being mereka juga lebih baik. Di masa-masa bonus demografi nanti pemerintah udah pasang strategi untuk memperbanyak lapangan pekerjaan, tapi ga menutup kemungkinan juga kalo dunia kerja akan semakin kompetitif. Jadi, pesen aja nih, keberhasilan karir jangan sampai membuat terlena yang akhirnya ga memperhatikan kualitas generasi yang akan datang. semoga terlepas dari tuntutan karir, kita ga lupa untuk mendidik dan mengajarkan value kehidupan buat anak cucu kita. 

We don't inherit life from our ancestors, we borrow it from our childrens.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Setelah ngos-ngosan lari tiga putaran keliling jogging track GSP, aku dan partner joggingku melakukan pendinginan. Sambil menikmati matahari tenggelam, kali ini kita pendinginan dengan senam mulut. Bahasa bakunya, berbincang-bincang. Bahasa sehari-harinya, ngobrol. Hehe.

"Aku dari dulu pengen kalo udah kerja udah punya mobil dan kemana-mana sendiri. Kayaknya enak yaa"
"Gila sih. Aku kok gak kepikiran ya. Aku aja gak tau mau kerja di mana..," jawabku.
"Kamu mah enak, gak perlu susah-susah mikir macem-macem hidupmu udah terjamin"

Kita kenal sejak awal semester tiga karena hobi yang sama. Kita sama-sama berjuang dengan hobi kita dari yang gak bisa apa-apa sampe akhirnya bisa sama-sama dikasih kepercayaan yang luar biasa. Dia sukanya curhat tentang si cowo A sampe Z, aku sukanya minta pendapat buat ngambil keputusan. Aku cuma modal telinga sementara dia pake akal dan logika, jadi honmaap aja sih kalo emang aku suka ga ngebantu padahal namanya cewek udah di kasih pendapat tetep ngeyel juga kan wkw. Sekarang kita sering skripsian dan olahraga bareng. Kita seringkali senasib, walaupun sesekali dia mengeluh karena mungkin orangtuanya tidak seberuntung orangtuaku.

Aku suka nggak setuju kalo ada orang yang iri sama hidupku, termasuk Ibuku. Alhamdulillah memang, aku hidup di keluarga yang selalu (di)cukup(kan). Walaupun ga setiap tahun sekali pergi liburan, ga setiap bulan belanja baju atau sepatu, ga setiap ada hp keluaran terbaru langsung beli, ga tiap makan di restoran tapi yang jelas cukuplah buat perut kenyang ngantuk tidur lalu gendutan. Ibuku sering bilang, "Kalo dulu ibu tuh jaman mahasiswa susah, ngapa-ngapain sendiri, ga punya temen, mau makan aja mikir-mikir. Kamu kan sekarang udah gampang, ada bapak sama ibuk jadi tugasmu sekarang tinggal belajar yang rajin aja biar jadi orang pinter terus mau ngapa-ngapain jadi gampang".

Aku lebih beruntung karena menyambut kehidupan setelah ayah ibuku sudah mampu hidup dengan lebih 'mapan'. Sebelum aku lahir, tepatnya zaman kakakku masih kecil, orangtuaku sering ngalamin pindah-pindah kontrakan. Kalo ditarik mundur lagi, orangtuaku dua-duanya sama-sama bukan dari keluarga yang 'berada', pernah ngalamin jadi mahasiswa perantauan,  yang juga pernah ngerasain pahit-pahitnya kehidupan. Makanya aku suka iri sama temen-temen yang hidupnya merana di perantauan. Aneh ya? Bukannya tidak bersyukur, mungkin orang lain menganggap hidupku enak, tapi aku justru merasa hampa karena aku gak sepenuhnya ngerti rasanya berjuang. Kebanyakan kita dibesarkan di generasi yang tinggal belajar doang. Padahal, kehidupan ga melulu soal pinter dan soal pelajaran di kelas. Padahal, pinter itu relatif bukan terstandar karena tiap individu punya modal potensi yang berbeda-beda.

Kalo kata Kang Emil, kita hidup itu ada yang jadi takdir dan ada yang jadi nasib. Meskipun aku dan kawanku bertentangan masalah persepsi hidup kita masing-masing, meskipun kita punya latar belakang ekonomi yang berbeda, meskipun kita punya tujuan personal yang berbeda, tapi kita sama-sama sepakat kalo generasi yang akan datang harus mendapatkan pendidikan yang tepat dari unit sosial terkecil dalam hidupnya: keluarga. Biarlah latar belakang keluarga itu jadi takdir yang tidak bisa kita ubah. Sementara, masa depan adalah nasib yang dengan usaha kita bisa mengubahnya. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka" QS 13:11

Lanjut ke part 2
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Yes, life begins at the end of your comfort zone.

I used to be the type of person which stands in behind. I walk with my friends. Go out with my friends. I go out on activities which my friends does. I was less recognised from the people walked with me, as if I was invisible. I used to depend on other people, that I never knew my own potential. It's not that I'm always dependent on others, but I'm less dominant when being with another person. Some people, have like, explosive energies while mine is limited that they seem to take over me. Maybe they have mercy on me which slowly turns down my self esteem and defeats my mentality. Besides, I thought that I would be clumsy to walk alone. It would be awkward to buy a cup of coffee and sit down on a coffee shop alone. Like seriously? watching a movie alone? I thought people who does things alone are such a pity.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Most of the time people tells you that social medias are bad influence for your life since people tend to show only their 'best parts'. Because then you will start comparing your life to some person and feel less worth. But have you ever thought why you're spending a lot of time being envy or admiring this kind of person? Ask yourself! The truth is, we perceive things in the way it relates back to ourselves. This world is like a mirror to us. When you like something, it's often because you feel connected in some way. For example, you like a movie that represents your life story or a kind of story you might have experienced in the past. That's why the choice of what we like or dislike represents our personality and character. You are what you eat. You are what you wear. You are what you listen to. You are what you think. And so on. Everything you do is a mirror of who you are. The same perspective we should use when we start comparing ourselves to other people.
"What we admire from other people is what we have within" - Lavendaire. 

So instead of letting your joy stolen by the thief called 'comparison', now you should realise: what you're actually envying is a quality you have within your soul that are asking to be manifested. It's all about perspective. You shouldn't be insecure by the comparison trap, but rather empower yourself with it. Tell yourself: you are enough✨
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me



Nur Zidny Ilmanafia | 1996 | Yogyakarta
Culture, humanity, technology, personal growth and spirituality enthusiast.

Follow Me

Labels

diary experience kkn opini psychology real story reflective spoof thoughts travel work

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
  • ▼  2018 (7)
    • ▼  September (1)
      • Timing
    • ►  July (1)
      • Take and give
    • ►  April (1)
      • In doubt
    • ►  March (2)
      • Dear Future Family pt. 2
      • Dear Future Family
    • ►  February (1)
      • Trust Yourself
    • ►  January (1)
      • Perspective
  • ►  2017 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2016 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  October (2)
  • ►  2014 (6)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  May (1)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Gooyaabi Templates