Jangan panik mari piknik

by - July 16, 2016

Ketika ditanya apa pekerjaanku maka jawabannya adalah mahasiswa. Pernahkah kamu bertanya kenapa mahasiswa dikategorikan suatu pekerjaan? Well, kalo aku menjawab pertanyaanku sendiri secara tidak logis mungkin karena menjadi mahasiswa itu mengikat seperti bekerja. Bukan bermaksud nakut2in kok, kuliah itu justru banyak manfaatnya apalagi buat individu "cupu" yang butuh pengembangan diri seperti aku. 

Kuliah memang menyita banyak waktu, salah satunya waktu bersama keluarga. Jangankan anak ngekos, anak yang tinggal sama orangtua juga sama2 tersita waktu keluarganya. Bahkan karena serumah tapi jarang ketemu justru lebih sering bersilat lidah daripada yang tinggal berjauhan. Ea pecun, pelan pelan curhat. Tapi dengan ikatan(?) ini, kita kita yang disebut mahasiswa, termasuk aku, mau ga mau harus menghargai waktu.

Simpelnya, ketika waktunya kuliah ya kuliah, belajar ya belajar
Pun juga libur ya libur lah

Di kala libur, kita berhak memilih sendiri apa yang akan kita lakukan. Bagi mahasiswa yang organisatoris(?), yang cintanya pada organisasi lebih dari cintanya pada pacarnya (kalo punya), bisa diprediksi akan menghabiskan liburannya di kampus. Entah ngevent lah, jaga sekre, atau mungkin nemenin satpam yg bertugas biar ga kesepian ditinggal mahasiswa lain. Kalo mahasiswa yang akademis, ya mungkin udah nyicil-nyicil belajar buat semester depan, atau mungkin ada yang lagi nyicil skripsi bahkan ketika baru ketrima masuk univ. Gak deng. Kalo mahasiswa yang putra daerah, belom libur juga paling udah pulang kampung. Hehe. Canda.

Sementara itu, mahasiswa yang hm gimana ya deskripsiinnya, yang akademis kaga, aktif organisasi ya ga banget2, visioner boro2, sosialita juga engga tapi gamau dibilang cupu (yang kayak aku gitulah) paling paling juga cuma nangkring di kasur sambil nontonin vlog orang sampe ngantuk trus tidur trus bangun2 bingung mau ngapain dan akhirnya nontonin youtube lagi sampe tua. Yang paling kubenci saat liburan adalah menjadi prokrastinator handal dan (sayangnya) ku asah skill itu setiap harinya. Tak diragukan lagi, aku yakin kalo daftar, sekarang juga udah bisa dapet surat keputusan untuk jadi guru besar atau Profesor dalam bidang prokrastinasi. Hehe. Sa ae kan w. Elha memuji diri sendiri. Yauda.

Pernah suatu jeda antara semester 3 dan 4 aku mengalami kehidupan yang stressful. Pas itu ayahku sakit, beberapa kali opname di RS dan harus menjalankan operasi. Karena selama kuliah aku merasa jarang mendedikasikan waktuku untuk ayah dan ibuku, jadi selama liburan itu ku luangkan untuk mereka. Besides, temen-temenku juga pada liburan semua cyin, main sama siapa juga kaga ada temen. Pengennya liburan sama keluarga, tapi tidak memungkinkan karena sedang mendapat cobaan dari Nya. Seandainya aja ga sedang diuji.... pasti sama aja, ga ada rencana liburan ke mana mana juga sih wkwk. Mungkin agak dramatis, eh tapi lebih mirip sinetron jadi sinetris(?), aku harus jujur aku merasa muak dengan semua ini. Wezele udah cocok masuk skrip sinetron kan? Ditambah lagi pake keluhan sakit kepala setiap buka Path yang 90% didominasi temen2 pada check-in di tempat liburan masing2. Yang jelas aku merasa mencapai suatu tahapan kesehatan mental yang kusebut, kurang piknik.

Orang2 sering bilang "Ahelah lu kurang piknik woi" dan seringkali aku ga setuju. Karena menurutku hidup ga melulu soal piknik. Ya iya bener kan, tapi kurang tepat (halah). Ternyata, piknik itu perluuuuu. banget. 

Intinya, piknik meningkatkan kepuasan hidup dan evaluasi diri yang positif karena ketika piknik kita mengevaluasi diri dari berbagai sisi kehidupan, kita juga punya kesempatan untuk melakukan apa yang bener-bener kita inginkan dan merasakan pengalaman-pengalaman baru.

Dari kacamata Islam, juga mendukung traveling atau safar, sebagai sarana mencari ilmu (salah satunya). Rasulullah SAW pun banyak menghabiskan hidupnya untuk bepergian terutama di Timur Tengah. Perjalanan ini konon memiliki dampak yang mendalam pada kemampuannya untuk menghormati perbedaan dan berempati dengan budaya lain. Seperti perjalanan salah satu Wali Sanga, Sunan Kudus dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa yang akhirnya memadukan kebudayaan Islam dengan Hindu dan menciptakan toleransi serta keharmonisan antar umat beragama. 



As for me, traveling experience really benefits for my mental health. Satu semester setelah liburan unproductive itu, aku sangat merasa sangat kurang sehat mental. Ga mampu melakukan regulasi diri dengan baik. It was also under some other uncomfortable life events tho. Jadiiii, AYO PIKNIK!!!

Sekuat dan seerat apapun kuliah serta kehidupan ini mengikatmu,
Jangan Panik Mari Piknik! :)
Dadahh👋👋

You May Also Like

0 comments