Lovable & Enjoyable

by - May 31, 2013

“Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.”
-Mahatma Gandhi
 Biasanya, tugas sekolah adalah tugas. Hanya semata-mata dikerjakan untuk mendapat imbalan berupa nilai-nilai kumulatif. Tapi yang ini beda. Tugas sekolah yang satu ini bikin aku dapet gak cuma nilai memuaskan tapi juga pengetahuan dan pengalaman yang mahal harganya. Melodi Putih Abu-Abu #3. Melodi Putih Abu-Abu, atau singkatnya MPAA adalah sebuah pagelaran musik dengan unsur budaya yang merupakan annual event yang sekaligus merupakan penilaian akhir mata pelajaran Seni Budaya khususnya musik. Ini yang aku katakan berbeda, ini yang bikin pelajaran musik lovable dan enjoyable.
 Tugas kami di sini adalah pentas kolaborasi musik budaya dengan komunitas musik eksternal. Maemsoto sebagai kelas sosial otomatis harus menemukan suatu komunitas musik yang pas untuk hadir berkolaborasi dalam pentas tersebut. Pelajaran pertama: kita jadi tau kalo Jogja juga punya komunitas-komunitas musik dengan berbagai alat musik dan genre yang keren-keren. Akhirnya kita jadi aktif browsing dan kepo beberapa komunitas musik yang eye-catching di google. Bahkan kita pernah bertemu dan diajak berkenalan dengan salah satu komunitas suling bambu.

Belajar Suling Bambu

Usut punya usut, kami dipertemukan dengan sebuah komunitas. Ini dia yang kamu pilih, "Kemanumane" namanya. Komunitas ini masih belum sebesar komunitas-komunitas yang pernah muncul di internet. Emang sih, kita gak nyari komunitas besar-besaran. Kemanumane sendiri merupakan kumpulan mahasiswa dari Institut Seni Indonesia yang punya genre etnik. Sedikit bocoran tentang awal mula komunitas ini, mereka mendirikan komunitas karena mereka punya tipe yang ingin bermusik secara bebas. Gak nyesel kita milih komunitas ini. Kakak-kakak seniman dari ISI ini keren banget, selain bakat bermusik mereka juga mereka ramah dan mau bantuin kita bikin konsep yang sesuai tipe musik mereka. Kalo penasaran, boleh aja browsing lebih lanjut.

 Semenjak awal pertemuan kelas dengan komunitas, kita menghabiskan waktu kurang lebih sebulan untuk latihan bareng. Dari sini, petualangan dimulai. Awal-awal kita kedapetan latian di 'basecamp komunitas'nya, yaitu daerah Madukismo, yang berjarak +/- 20km dari rumah(ku). Bayangkan, asyiknya membelah Jogja setiap sore dan betapa kewernya nge gas motor selama setengah sampe satu jam-an. Tapi kalo sepenuh hati, ini salah satu yang bakal kita kangenin. Ya, walaupun akhirnya lokasi latihan jadi nomaden sih.
Pelajaran kedua: Upgraded peta di kepala.

Jarak Rumah - Lokasi latihan

 Banyak banget hal-hal yang dialami selama proses latihan. Salah satunya, aku jadi tau komponen-komponen gamelan, semacam saron, gambang, bonang, gong, kempul, kendhang yang selama ini cuma disebut 'gamelan'. Walaupun sebenernya dalam pelajaran mulok bahasa jawa, teorinya udah dibahas, tapi melihat bentuk aslinya dan praktek secara langsung itu bisa lebih ngena. Pelajaran ketiga: berhasil mendeskripsikan alat-alat dalam musik gamelan. Fyi, hanya di gamelan Maemsoto, ada alat musik macem ini:

Peace, love, and gaul buat yg ngerasa terpampang ^^v

 Singkat cerita, setelah hampir satu bulan, tiba juga H-1. Hari di mana semangat latihan meluap-luap disebabkan antara; hari yang ditunggu-tunggu segera tiba atau saat-saat latihan akan segera habis. Segala macam persiapan dituntaskan. Salah satu poin penting persiapannya yaitu kostum. Ternyata sekali lagi karena the power of kepepet dan the power of dana mepet jadinya kostum pentas kita pilih yang sesimpel mungkin tapi sekompak mungkin. Sayangnya, kenapa kostum jadi sedikit berantakan di H-1? Jadinya malem itu aku googling sana-sini cari pedoman kostum yang pas. Pelajaran ke-empat: bahwa baju adat di Indonesia itu juga multikultural. Mungkin jarik itu sekilas hanya jarik bermotif. Tapi sebenarnya motif tersebut merupakan ciri khas dari masing-masing daerah. Yang pernah ikut dimas diajeng pasti tau. Yang belum pernah, jomblo ya? #gak nyambung -_-
24 Jam berlalu.
 Tiba juga waktunya kita tampil. Dibalik tirai yang masih tertutup. Inilah saatnya. "Enjoy, enjoy" Seakan semua terhipnotis kata-kata itu. Lalu perlahan tirai terbuka diselimuti asap dupa dan mystic feel. Maemsoto bersama Kemanumane pun tampil dengan pesonanya dan applause penonton yang menggema.

Maemsoto feat. Kemanumane
  Lihat sendiri, kan? seberapa berharganya pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari hanya satu tugas sekolah. Kesempatan mengukir pengalaman hidup dateng di masa muda. So, jangan habiskan masa mudamu dengan hal-hal yang gak berguna. Thanks for your time.xoxo.

You May Also Like

0 comments