• Home
  • About
  • Youtube

Spilling Thoughts

of ZIDNY ILMANAFIA

facebook google twitter tumblr instagram linkedin

"Udah lulus lama tapi ga dapet dapet kerja?" 
"mungkin, ia kuliah ga sesuai passion" 
"Kuliah teknik nuklir tapi kok kerjanya jadi hrd sih?" 
"mungkin, passionnya di situ"
"Aku stres banget kerja di sini"
"mungkin, kerjaanmu ga sesuai passion kamu" 

Dalam membuat keputusan karir ada banyak hal yang menjadi pertimbangan. Minat, bakat, gaji, lokasi, lingkungan, preferensi orang tua, dll. Aku rasa sekarang udah lebih banyak orangtua yang memberi kebebasan anaknya untuk memilih sendiri jalur karir mana yang ingin ditempuh. Kita udah cukup dewasa untuk menentukan masa depan kita. Enak ga enak sih sebenernya. Masalahnya kita udah tau belum ya, apa yang pengen kita lakukan di masa depan?

Dari banyak kisah sukses inspiratif, kebanyakan mereka yang sukses dan bahagia karena karir atau pekerjaan mereka merupakan bidang yang sudah sejak lama mereka sukai dan tekuni. Sebaliknya, mereka yang terkesan kurang bahagia dalam kehidupan karirnya punya riwayat ketidakselarasan bidang yang ditekuni dengan minatnya. Ini bikin kita punya pandangan bahwa pekerjaan yang ideal adalah seperti hobi yang dibayar. Seolah-olah makin meyakinkan nasehat yang bilang untuk follow your passion.

Gimana sih cara menemukan passion? 
Passion ditandai dengan energi yang positif dalam melakukan suatu aktivitas. Energi itu bikin kita memiliki perasaan tertantang. Kita jadi ga cepet puas dengan apa yang udah kita capai dan karya-karya yang kita buat. Ibarat main game, selalu pengen yang namanya naik level. Orang yang jago tari, belum tentu passionate sebagai penari. Bedanya terletak pada keinginan orang itu untuk mengupgrade kemampuannya melalui skill tari yg dimiliki. Dibilang passion ketika ia menyukai apa yang dilakukan dan selalu ingin berbuat lebih dan lebih lagi. Misalnya mulai dari mengikuti sanggar tari kemudian mengeksplor gerakan baru lalu menciptakan serangkaian gerakan untuk tarian baru sampai mengkonsep sebuah pertunjukan seni tari. Ada improvement dalam setiap level yang dilakukan.

Passion bukan suatu pertanyaan yang harus di jawab sekarang juga. Jangan cari passionmu, kata sebuah TED Talk. Ia datang dengan sendirinya melalui proses pencarian yang terus menerus dalam hidup. Kalo kita sibuk nyari passion, kita justru bisa kehilangan kesempatan yang akan mengubah hidup. Jadi, sebaliknya, lakukan aktivitas sepenuh hati untuk bisa menemukan apa yang benar-benar kita minati. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di sekitar kita. Dari pengalaman itu, kita akan mendapat feedback, hal apa yang kita lakukan dan selesaikan dengan baik serta apa yang ternyata kurang cocok dengan karakter dan diri kita. When we solve a problem and get a thanks from other people, that's when we actually find our passion.

Mirisnya, seringkali passion ni jadi kambing hitam ketika ada orang tiba-tiba banting stir pindah haluan dari satu bidang yang ditekuni ke bidang lain yang berbeda. Orang-orang cenderung menjadikan passion sebuah excuse jika tidak menyukai dan tidak bisa memberikan yang terbaik dalam kerja. Sebenernya ini salah satu miskonsepsi  tentang passion bahwa ia diartikan sebagai judgement berdasarkan perasaan suka dan tidak suka. 

Beruntung kalau apa yang kita tekuni sesuai dengan passion. Kalau enggak, bukankah egois kalau kita membencinya karena haus akan passion? Tidak semudah itu ferguso. Sebab realitanya sering kali kita harus dihadapkan pada pekerjaan yang mungkin bertentangan dengan diri kita.

Lantas, apakah lebih baik tersiksa dengan pekerjaan yang "bukan aku banget"?
Gagasan tentang passion bikin aku teringat tentang konsep ikhlas. Ikhlas tidak dibatasi perasaan berat atau ringan dan suka atau tidak suka. Dalam kondisi apapun, tuntunannya adalah untuk tetap dikerjakan. Ketika berat, ingatlah mungkin kita harus percaya, itung-itungannya: bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Mungkin saat ini adalah fase di mana diri ini harus bersusah-susah dahulu. Sementara bersenang-senangnya di masa yang akan datang atau di akhirat yang lebih kekal sebagaimana Allah telah menjanjikan. Jadikan rasa berat untuk berjuang meraih pahala yang lebih besar. Karena Rasulullah kepada Aisyah pernah berkata, "pahalamu senilai dengan kadar payahmu". Dan ketika benci, ingatlah "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (2: 216). Allah tidak menjadikan cinta dan benci sebagai tolak ukur ikhlasnya perbuatan. Yang penting, kerjakanlah, sampai hikmah-hikmah terungkap untuk menguatkan keikhlasan.

Persamaan passion dengan ikhlas adalah sama-sama proses yang tak kenal henti. Passion adalah energi, bukan soal cinta atau benci. So, do things with passion. Dan lebih dari itu, jadilah orang yang melakukan segala sesuatu penuh keikhlasan. Karena orang yang ikhlas selalu mencintai apa yang dilakukannya bukan cuma melakukan apa yang dicintainya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Ratoh Jaroe SAKA UGM

Salah satu kegiatan teraktifku semasa kuliah adalah bergabung di sanggar kesenian aceh. Prinsip tari Aceh khususnya ratoh jaroe ditampilkan secara bersama-sama sehingga mengedepankan kekompakan. Ga cuma dalam gerakan, tapi juga latihan, power, dan nyanyian. Kalo ada yang ga dateng latihan sekali aja dan ketinggalan gerakan, yang kena imbasnya ga cuma yang ga dateng tapi ke semua orang di barisan itu. Jadinya ga bisa tuh, bagus sendirian.

April 2017, kita dapet kesempatan mengisi penampilan tari di sebuah acara job fair di UGM. Itu kali pertama kita tampil di acara job fair. Kalo dipikir-pikir, agak ga nyambung ya. Biasanya kita mah diundang di acara kesenian, gala dinner, seminar, konferensi, dan acara-acara lain yang concern terhadap kebudayaan atau keislaman. Udah gitu, yang hadir dalam acara job fair ini kan para job seekers yak. Mereka datang bukan untuk menikmati acara, tapi untuk mencari informasi dan kesempatan bekerja. Ada sih yang kemudian duduk menyaksikan dan menikmati penampilan kita, tapi lebih banyak yang riuh mendatangi stand-stand calon tempat kerja mereka. Itu wajar bukannya?

bersama pak wakil rektor bidang kerja sama dan alumni
Yang menarik, setelah penampilan kami yang memukau, ibu Dwikorita sebagai rektor pada saat itu naik ke atas panggung dan memberikan apresiasi. Kita bener-bener antusias dan menunggu-nunggu tentang apa yang akan beliau sampaikan. Kebetulan kita emang lagi gencar-gencarnya fundraising sih. Diem diem berharap ada unsur promosi dari sepatah dua patah kata yang beliau lontarkan. Namanya juga, usaha.. hehe. Apapun cara halal yang memungkinkan ya kita usahakan. Hingga akhirnya apa yang beliau sampaikan.. hm.. melebihi ekspektasi. Sayangnya bukan lebih banyak dana yang mengalir ke rekening kita sih *penonton kecewaaa*, tapi yang beliau sampaikan lebih membuat tercengang dan bermakna. Beliau menggunakan tarian kami sebagai contoh mental yang harus dimiliki oleh job seeker masa kini.

"Team work dan gerakannya tangguh dengan tingkat kesulitan rumit, dibutuhkan untuk menjadi penggerak perusahaan, penggerak ekonomi bangsa, tetap kompak dalam kondisi yang dinamis sekali. Ini adalah contoh pemuda handal masa depan Indonesia."
(Dwikorita Karnawati, 2016)

Kata-kata teamwork dan dinamis mengingatkanku pada ramainya perusahaan teknologi. Seperti yang kita ketahui, teknologi adalah salah satu aspek yang berperan besar dalam mengubah kehidupan bahkan peradaban kita saat ini. Hadirnya teknologi merubah cara orang melakukan segalanya, termasuk dalam bekerja. Kini kita dihadapkan pada zaman yang menuntut untuk terus melakukan inovasi, adaptasi, dan membuat perubahan dengan cepat. Otherwise bakal ketinggalan, gak relevan, dan ditinggalkan. Di sini, kita bicara soal penggerak ekonomi bangsa, ya.. Contohnya perusahaan-perusahaan besar yang menjadi salah satu penggerak roda perekonomian. Biar kebayang lagi, perusahaan berbasis teknologi, atau yang akrab disebut startup. Startup yang berfokus memberi terobosan dalam hidup (e.g. transportasi, belanja, pembayaran, rekreasi) dengan teknologi digital yaaa.

Apa menghadirkan inovasi yang relevan dan bermanfaat itu mudah? Jelas tidak dong. Dan jelas membutuhkan proses yang panjang untuk mengimplementasikannya. Belum lagi tantangan-tantangan yang terduga maupun tak teduga buat dihadapi. Baik dari segi teknis, internal, maupun eksternal kayak masyarakat dan opini publik. Bahkan dari proses perancangan gagasan pun ga mudah, butuh tangan tangan dan otak otak yang peduli dan kreatif. Tangan dan otak satu orang aja ga cukup. Makanya dibutuhkan mata, hidung, telinga, lidah, tangan, otak yang banyaakk, yang berbeda bentuk, warna, dan ukuran biar makin banyak perspektif yang bisa didapatkan. Tantangannya adalah mensinergikan agar panca indera yang berbeda-beda tetep bisa mencapai satu tujuan yang sama. Di sinilah butuh skill yang dinamakan team work and collaboration. Ide dari satu kepala aja bisa sih, tapi kolaborasi kelima alat indra dari banyak kepala akan melahirkan ide ide gila dan inovasi yang tak terduga dan luas manfaatnya. Seperti poin dari tari ratoh jaroe yang aku bilang sebelumnya. Bisa aja gerakan kita sendiri keren wow, tapi lebih amazing dan bisa dinikmati pertunjukannya ketika gerakan satu tim sama-sama bagusnya.

Ratoh jaroe, saman, likok pulo, dan tarian Aceh lainnya identik dan mengajarkan pentingnya kekompakan. Bukan asal kompak, gerakannya harus bertenaga, berirama, cepat dan tepat. Pantas lah kiranya dianalogikan dengan mental yang harus dimiliki pemuda sesuai dengan tantangan dunia kerja saat ini. Lincah, tangguh, bersemangat, dan bersinergi dalam membangun bangsa.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Tiap fase kehidupan menawarkan ujiannya masing-masing. Ada orang yang memang terlahir dan dibesarkan dengan optimisme. Mereka yang tidak pernah terlihat menderita. Atau penderitaannya kalah dominan dengan optimismenya. Namun tentu gak semua orang seperti itu. Sekeras apapun usaha seseorang mengajak untuk tetap bersikap optimis dalam menghadapi masalah, ia tidak mampu merubah kepribadian orang tersebut. Apalagi kalau karakternya sudah terasah dengan pengalaman dari interaksi dengan lingkungan. Mungkin pada momen tertentu, menularkan optimisme tidak selalu berhasil dan menjadi solusi. Yang perlu kita tau, tiap orang punya caranya masing-masing. Jika bukan dengan optimisme, cobalah sesekali, biarkan dirimu tenggelam dalam permasalahan. Lihat cara apa yang bisa membuatmu bangkit. Kadang masalah adalah jurang lebar antara dua tebing tinggi. Kita harus terjun dahulu, baru memanjat tebing di seberang.

Bukan hal yang mudah, to let you fall in your weakest point. Kita punya mekanisme bertahan. Terkadang kita selalu ingin terlihat tangguh. Menasehati diri sendiri dengan segala nasehat positif. Padahal tangguh belum tentu berarti mereka yang sanggup menyelesaikan pertikaian sendiri. Mereka yang berani menunjukkan kelemahan dan meminta bantuan orang lain adalah orang yang sama tangguhnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Memasuki usia quarter-life, mulai banyak muncul hal-hal yang perlu dipikirkan. Abis ini mau ke mana? Ngapain? Dan yang kebanyakan bikin baper sekaligus nyesek adalah: sama siapa?

Belakangan intensitas curhatan kegalauan untuk memilih calon pasangan mulai meningkat. Ada yang punya banyak pilihan dan bingung harus milih yang mana. Ada yang kemana-mana selalu bersama mendedikasikan waktu untuk si dia tapi gak pernah ada status yang jelas. Ada juga yang susah membangun hubungan intim sama orang lain. Ada yang karena punya niat menikah akhirnya memutuskan untuk berhijrah. Ada pula yang sudah sama-sama nyaman tapi berbeda arah dan tujuan. Ada. Siapa? Pikir sendiri.

Rasanya begitu sesak dihantui orang-orang yang so called budak cinta ini, tapi gak boleh munafik akupun mulai kepikiran. Terutama setelah sebuah percakapan dengan dosen pembimbing, "Ayo cepetan diselesaiin skripsinya biar bisa melanjutkan ke tahap perkembangan selanjutnya!" "Waduuh kek mana tuh pak?" "Ya bekerja apa sekolah apa menikah?". Entah kenapa momennya juga bebarengan sama himbauan dari bapak sama ibu untuk memastikan life plan setelah lulus. Biar keliatan punya planning, salah satu life goals ku adalah menikah di tahun 2021, tepatnya tanggal 10 november. Aminin boleh kali ya? Haha. Btw kenapa pake tanggal taun? Bagus aja gitu tanggalnya, 10-11-2021. Wkwk. Namanya target ya kan, meleset dikit dak apa lah. Atau 10-10-2020 ya? Eh, nanti dulu deh.

Menihkah, memang bukan perkara yang sederhana. Ya. Tau kok. Apalah aku ini yang masih suka ndusel-ndusel ibuk kalo di rumah, kok tiba-tiba minta nikah. Apalah aku yang imannya masih kayak sinyal 4G di arung dalam; lemah dan hanya kuat di saat dan tempat tertentu. Aku pun suka menertawakan diri sendiri yang punya target nikah yang tidak realistis. Pertama sih ngetawain karena belum ada calon. Padahal syarat menikah kan kalih, nggih, kalih sinten? Kedua, ngetawain diri sendiri yang ga punya bekal apa-apa buat menikah. Hla aku tuh masih ‘disuapin’ belum bisa cari makan sendiri, kok mau nunut sama sesosok lelaki tak dikenal? Ketiga, ya emang suka ketawa aja😆Receh betuul!

Daripada stres mikirin besok nikah sama siapa, makan apa, kenapa nggak menikmati masa-masa lajang aja dulu? untuk memantaskan diri? Ya kan... Bukan membela kaum jomblo kok, tapi sendiri ga seburuk itu loh. Coba pikir baik-baik, hal-hal apa yang bisa kita nikmati ketika sendiri? Kita punya waktu untuk lebih mengapresiasi diri sendiri. Kita punya waktu untuk mencintai diri sendiri. Manusia kan tercipta sempurna dengan ketidaksempurnaannya. Setiap individu pasti punya kekuatan dan kelemahan masing-masing. Dan itulah yang membuat seseorang unik. Sebagai orang yang beriman, yang berhak menerima cinta terbesar kita adalah Sang Pencipta kita. “Orang-orang yang beriman sangat mendalam cintanya kepada Allah.” (2:165). Mencintai makhluk lain, termasuk mencintai diri sendiri, juga didasari cinta kepada Allah. Kalo sebagai warga negara yang baik, cintailah ploduk ploduk indonesia. Heheheh.😆

Kadang tuh kita terburu buru sama tuntutan sosial. Wah si ini udah begini. Si itu udah begitu. Rumput tetangga selalu lebih hijau duluan. Ya jelas, tetangganya sawah semua. Sampe kita lupa sama diri kita sendiri. Siapa sih aku? Apa sih kelebihan dan kelemahanku? Apa sih misi dalam hidupku? Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu gak muncul ketika kita sibuk memenuhi ekspektasi orang lain. To live your life to the fullest, kenali kekuatan dan menerima kelemahan diri. Jadinya kita lebih mawas diri, tau batasan apa yang bisa kita lakukan dan yang enggak. Tidak mudah terjebak dalam comparison trap. Tidak mudah tergoyahkan dengan tren nikah muda, jika memang kita sadar kita belum mampu.

Manfaatin masa masa ini juga untuk ngebangun mimpi dan cita cita hidup. Bukan berarti punya cita cita buat diri sendiri tuh ga bisa berbagi hidup sama orang lain. Perkara menikah itu kan bisa saling kolaborasi mimpi. Cie gitu.  Ngebangun relasi dan silaturahmi juga penting. Karena toh, gimana mau punya pasangan kalo kitanya juga ga bergaul ye kan..

Ingat ya, hidup itu singkat; cuma lima huruf! Wkwkwk. Hidup itu cuma sekali. Ngerasain muda juga ga selamanya. Ngerasain bebas apalagi. Gak usah buru-buru ngikutin arus. Semua orang punya waktunya masing-masing. Just trust the timing of your life. Banyak-banyaklah kita berkaca. Mengenali siapa diri kita sebenarnya. Memperbaiki diri hingga tiba saat yang dinanti. Tenang, takdir kita selama hidup itu sudah ditetapkan Allah, kok. Kita tinggal berusaha, bersabar, dan bersyukur selalu. :)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Take and give happens in the relationship with The Creator. He take something worth keeping from our lives but surely gives something better in return. We are created with both strength and weakness. There's this poor that was blessed with excellent interpersonal skills. While the rich was somewhat anti social. Or the classic story, where the good looking was dumb yet the ugly was smart and intellectual. So what's actually stopping you from being content and grateful?

 I guess its another comparison trap. That we live according to how people think about us. We use the other persons formula to solve our problems while it should be individually different. We tend to look on others strength easily, focusing ones weakness and look down on our own capabilities.

Self worth is problematic. Caring so much about the weakness makes it appeals even more. The confidence loss. So does the love for ones self. Have we forgotten that we should love ourself before receiving others love and loving them back?

You know what? Its not about getting rid of the incapability monster but rather accepting it as equal. Its not about pulling the rope, but putting it down. Everytime we're exposed to another weakness, think of it as a self-discovery. Make some self improvement so that the self is able to cope in adversity.

As stated in the beginning, we could take and give with God. Perhaps He took some aspect that makes you a weak person. But keep in mind, theres gotta be something you're capable of. Or maybe, it's a matter of time to realise you were blessed with power to change your weakness into something beneficial:)

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me



Nur Zidny Ilmanafia | 1996 | Yogyakarta
Culture, humanity, technology, personal growth and spirituality enthusiast.

Follow Me

Labels

diary experience kkn opini psychology real story reflective spoof thoughts travel work

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  March (1)
      • Istanbul (Intro)
  • ►  2020 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
  • ►  2018 (7)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (9)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2016 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  October (2)
  • ►  2014 (6)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  May (1)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Gooyaabi Templates