![]() |
| Ratoh Jaroe SAKA UGM |
Salah satu kegiatan teraktifku semasa kuliah adalah bergabung di sanggar kesenian aceh. Prinsip tari Aceh khususnya ratoh jaroe ditampilkan secara bersama-sama sehingga mengedepankan kekompakan. Ga cuma dalam gerakan, tapi juga latihan, power, dan nyanyian. Kalo ada yang ga dateng latihan sekali aja dan ketinggalan gerakan, yang kena imbasnya ga cuma yang ga dateng tapi ke semua orang di barisan itu. Jadinya ga bisa tuh, bagus sendirian.
April 2017, kita dapet kesempatan mengisi penampilan tari di sebuah acara job fair di UGM. Itu kali pertama kita tampil di acara job fair. Kalo dipikir-pikir, agak ga nyambung ya. Biasanya kita mah diundang di acara kesenian, gala dinner, seminar, konferensi, dan acara-acara lain yang concern terhadap kebudayaan atau keislaman. Udah gitu, yang hadir dalam acara job fair ini kan para job seekers yak. Mereka datang bukan untuk menikmati acara, tapi untuk mencari informasi dan kesempatan bekerja. Ada sih yang kemudian duduk menyaksikan dan menikmati penampilan kita, tapi lebih banyak yang riuh mendatangi stand-stand calon tempat kerja mereka. Itu wajar bukannya?
![]() |
| bersama pak wakil rektor bidang kerja sama dan alumni |
"Team work dan gerakannya tangguh dengan tingkat kesulitan rumit, dibutuhkan untuk menjadi penggerak perusahaan, penggerak ekonomi bangsa, tetap kompak dalam kondisi yang dinamis sekali. Ini adalah contoh pemuda handal masa depan Indonesia."
(Dwikorita Karnawati, 2016)
Kata-kata teamwork dan dinamis mengingatkanku pada ramainya perusahaan teknologi. Seperti yang kita ketahui, teknologi adalah salah satu aspek yang berperan besar dalam mengubah kehidupan bahkan peradaban kita saat ini. Hadirnya teknologi merubah cara orang melakukan segalanya, termasuk dalam bekerja. Kini kita dihadapkan pada zaman yang menuntut untuk terus melakukan inovasi, adaptasi, dan membuat perubahan dengan cepat. Otherwise bakal ketinggalan, gak relevan, dan ditinggalkan. Di sini, kita bicara soal penggerak ekonomi bangsa, ya.. Contohnya perusahaan-perusahaan besar yang menjadi salah satu penggerak roda perekonomian. Biar kebayang lagi, perusahaan berbasis teknologi, atau yang akrab disebut startup. Startup yang berfokus memberi terobosan dalam hidup (e.g. transportasi, belanja, pembayaran, rekreasi) dengan teknologi digital yaaa.
Apa menghadirkan inovasi yang relevan dan bermanfaat itu mudah? Jelas tidak dong. Dan jelas membutuhkan proses yang panjang untuk mengimplementasikannya. Belum lagi tantangan-tantangan yang terduga maupun tak teduga buat dihadapi. Baik dari segi teknis, internal, maupun eksternal kayak masyarakat dan opini publik. Bahkan dari proses perancangan gagasan pun ga mudah, butuh tangan tangan dan otak otak yang peduli dan kreatif. Tangan dan otak satu orang aja ga cukup. Makanya dibutuhkan mata, hidung, telinga, lidah, tangan, otak yang banyaakk, yang berbeda bentuk, warna, dan ukuran biar makin banyak perspektif yang bisa didapatkan. Tantangannya adalah mensinergikan agar panca indera yang berbeda-beda tetep bisa mencapai satu tujuan yang sama. Di sinilah butuh skill yang dinamakan team work and collaboration. Ide dari satu kepala aja bisa sih, tapi kolaborasi kelima alat indra dari banyak kepala akan melahirkan ide ide gila dan inovasi yang tak terduga dan luas manfaatnya. Seperti poin dari tari ratoh jaroe yang aku bilang sebelumnya. Bisa aja gerakan kita sendiri keren wow, tapi lebih amazing dan bisa dinikmati pertunjukannya ketika gerakan satu tim sama-sama bagusnya.
Ratoh jaroe, saman, likok pulo, dan tarian Aceh lainnya identik dan mengajarkan pentingnya kekompakan. Bukan asal kompak, gerakannya harus bertenaga, berirama, cepat dan tepat. Pantas lah kiranya dianalogikan dengan mental yang harus dimiliki pemuda sesuai dengan tantangan dunia kerja saat ini. Lincah, tangguh, bersemangat, dan bersinergi dalam membangun bangsa.





